Sebenarnya sudah ngantuk, setelah menyelesaikan bagian tugas Seminar Akuntansi Pemerintahan, tadi ingin cepet-cepet nutup laptop lalu memejamkan mata. Tapi tiba-tiba terlintas lagi kuliah Pak Anies tadi siang. Ini tentang komitmen, menyatakan diri baik dan menginginkan kebaikan dan perubahan. Saat sebuah lingkungan kita dicap buruk (walau pada kenyataannya tidak buruk, hanya saja cap yang sudah melekat) maka stigma masyarakat akan menganggap semua yang berhubungan dengan lingkungan itu buruk. Maka jangan ragu mengatakan jika 9 dari 10 orang di lingkungan tersebut buruk maka saya adalah 1 orang yang tidak buruk tersebut. Dan saya yakin setiap 10 orang ada 1 orang yang tidak buruk, sehingga masih banyak orang yang baik maka yakinlah akan perubahan. Jika perubahan itu belum juga menghampiri maka jangan berputus asa. Terus berjuang, jangan menyerah. Mari belajar dari pada pendiri banngsa, dari bapak bangsa. Bayangkan jika mereka yang telah berjuang untuk kemerdekaan lalu dipenjara, disiksa, diasingkan, dibuang. Lalu berfikir, mengapa kemerdekaan tidak kunjung datang, sudahlah aku menyerah saja, ku hentikan perjuangan ini, niscaya tidak ada Indonesia merdeka. Indonesia merdeka karena mereka tidak menyerah, tidak ada kata putus asa. Ambil pelajarannya, jangan putus asa memperbaiki sesuatu. Berkomitmenlah untuk terus berjuang.
Saya adalah orang baik yang menginginkan kebaikan dan perubahan menjadi lebih baik.
Merindu pena itu tergores kembali seperti dahulu, saat ia tidak terbungkam oleh kekang waktu. Memimpi waktu terurainya lantunan senandung cerianya dunia atau meradangnya penindasan. Berharap gelora asa itu datang menghampiri atau pilihan yang terakhir menggelorakan asa agar tetap tidak terbungkam.
Kita pasti mengetahui sebuah kata yang sangat dahsyat dampaknya pada semangat, pada kehidupan, pada keinginan, bahkan pada kemampuan. Kata itu adalah “jika saja”, kedahsyatannya mampu mengajak kita untuk mengeluh, mengajak kita untuk mengharapkan jarum detik berdetak ke kiri bukan ke kanan.
Coba saja kita renungkan sejenak, pernahkah kita mengungkapkan sesuatu yang membuat kita kecewa, yang pada kenyataannya jauh dari harapan bahkan kadang menyakitkan. Misal kegagalan, penyakit, kerugian, dan banyak teman-temanya yang mungkin saja itu adalah cobaan atau bahkan laknat, kita tidak tahu, yang harus kita lakukan adalah intropeksi, selalu mencoba memperbaiki diri menganalisa mengapa bisa terjadi kemudian bangkit melawan keterpurukan, menjadikan kegagalan sebagai senjata untuk meraih keberhasilan, menjadikan penyakit menjadi semangat untuk hidup sehat serta sebagai pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, dengan atau tanpa adanya penyakit itu setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.
Sekarang saatnya kita ubah paradigma kita, dari “jika saja” menjadi “akan”, dari keterpurukan menjadi kebangkitan, dari menyerah menjadi terus berjuang, dari lemah menjadi tegar, dari berpikir kehidupan ini berakhir dengan kegagalan menjadi kehidupan ini bermula dari kegagalan. Tanamkan semangat dalam diri “ Saya akan maju, saya tidak menyerah dengan kegagalan, saya tidak menyerah kepada penyakit, saya akan terus berjuang”.
Jarum jam sesuai kodratnya akan terus bergerak ke kanan, waktu akan terus berputar ke depan, tidak akan berputar ke belakang, jangan menyerah, jangan menjadikan kegagalan, keterpurukan,penyakit menang melawan kita, kitalah yang harus keluar sebagai pemenang.
Dalam surat Ar Ra’du ayat 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”
Jika kita menyerah maka kita akan selesai walau kehidupan kita belum usai, mati sebelum ajal menjemput. Kita ini adalah makhluk yang dibekali akal maka sudah selayaknya kita menggunakan karunia itu untuk menunjang perjuangan hidup kita mencari bekal di dunia. Nikmat ALLAH sungguh banyak sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Jika ALLAH berkehendak mengambil sedikit saja nikmatnya apakah lantas kita berhak kufur?
Coba renungkanlah “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah).” (QS. Ibrahimn Ayat 34).
Banyak diantara kita hanya menghitung kesusahan, hanya menghitung kegagalan jarang menghitung ni’mat kemudian mensyukurinya.
Alangkah baiknya kita ingat pula
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim Ayat 7).
Semoga kita termasuk dalam hamba-hamba yang mensyukuri nikmat-Nya bukan hamba-hamba yang kufur akan nikmat-Nya. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawabi.
Sekarang saya akan mengajak anda bertamasya, siapkan perbekalan, karena kita akan mengunjungi tempat yang sangat indah. Sesekali perlulah untuk menjernihkan kembali jiwa dan raga kita setelah dalam keseharian bergulat dengan pekerjaan.
Saya akan mengajak anda bertamasya ke sebuah negeri yang bernama “kejujuran”.
Sebelumnya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan, untuk menentukan siapa saja yang berhak ikut serta.
Pertanyaannya :
1. Mari kita jujur tanyakan kepada diri kita : “hari ini apa ya yang aku keluhkan, kemarin apa, pekan kemarin, bulan kemarin, tahun kemarin….. apa saja ya keluhanku?”
Silakan kalau masih ingat tulis dalam point-point.
2. Dalam sehari pernahkah anda menghitung nikmat yang anda dapatkan?
3. Dalam sepekan pernahkan anda membandingkan jumlah nikmat yang anda dapatkan dengan ungkapan syukur yang anda ucapkan?
Kemudian saya akan membagikan kepada anda sebuah note, silakan anda baca sebagai persiapan perjalanan kita :
Teman, sudahkan anda jawab semua pertanyaannya, dan sudah selesaikan membaca note yang saya bagikan. Sebenarnya perjalanan ini anda lah yang menentukan apakah anda bisa ikut serta atau tidak. Jika anda jujur menjawab pertanyaan diatas dan anda bisa membandingkan jawabannya maka anda secara otomastis bisa mengikuti tamasya ini. Oke sekarang saya rasa ini saatnya kita akan berangkat menuju negeri “kejujuran”. Bersiap-siaplah.
Pernahkah kita mengalami kegagalan?
Coba ingat-ingat kembali kehidupan kita, ingat-ingat saat kita masih duduk di bangku tk, atau sd, ingat kembali dari ingatan terlampau yang mampu kita ingat……………
Lalu katakan secara jujur pada diri kita sendiri, apa saja kegagalan saya, dan kegagalan saya yang terbesar menurut saya adalah……
Ketika kita masih kanak-kanak, kita ini orang yang tangguh dalam menghadapi kegagalan. Apa buktinya? Ingatlah ketika kita berlatih berjalan, dulu sewaktu kita masih kanak-kanak. Siapa pun kita, pasti pernah jatuh dalam rangka belajar berjalan itu. Apa yang kita lakukan ketika kita jatuh? Kita bangun lagi, belajar berjalan lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi, belajar berjalan lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi. Begitulah berkali-kali kita jatuh, lalu bangkit lagi : sampai kita bisa berjalan! Eh, apa jadinya saat itu ya, ketika kita jatuh dalam belajar berjalan, lalu kita tidak mau bangun dan belajar berjalan lagi? Mungkin kita tidak pernah bisa berjalan seperti saat ini.
MENYIKAPI KEGAGALAN
Belajar dari Kisah Siti Hajar
Mari kita belajar pada kisah Ibunda Siti Hajar berikut
“Siti Hajar berlari-lari bolak-balik dari Shafa ke Marwah di tengah gurun yang tandus mencari air bagi anaknya. Ia tidak hanya berlari satu kali lalu berhenti ketika ia tidak menemukan air yang diperlukannya. Ia kembali lagi, dan berupaya lagi. Ketika ia gagal, maka ia berusaha lagi untuk mencari air yang sangat dibutuhkannya itu. Ketika ia gagal, ia masih terus berusaha mencari sambil berlari-lari. Dalam hatinya yang suci dan teguh, ia hanya ingin menyelamatkan anaknya, karena Allah SWT. Ia terus berupaya tanpa kenal putus asa. Meskipun sekian kali berusaha dan belum juga memperoleh air itu, ia masih terus berupaya dengan hati yang tegar tanpa kenal lelah. Setelah sekian kali berupaya, barulah ia menemukan mata air yang dibutuhkannya itu, atas pertolongan Allah Yang Maha Memberi.”
Belajar dari Keteguhan
Pernahkah pula kita mengetahui perjuangan para volunter
Untuk menciptakan lampu pijar, Edison telah melakukan 9.000 percobaan yang gagal, dan 6.000 lebih bahan telah ia coba. Sampai di sini, resapilah sebentar, “9.000 kali percobaan yang gagal dan 6.000 lebih jenis bahan dicoba…”
Sementara itu Edison telah mencoba lebih dari 50.000 kali percobaan untuk menciptakan aki.
Ketika asistennya bertanya mengapa dia terus melakukan percobaan lampu pijar, padahal sudah ribuan kali gagal, Edison mengatakan bahwa ia tidak pernah gagal satu kali pun! Ia menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah menemukan ribuan benda yang tidak bermanfaat, yang tidak bisa dihindari dalam proses penciptaan.
Kolonel Sanders, telah ditolak oleh seribu lebih toko ketika ia menawarkan resep masakan ayam goreng. Akhirnya ia begitu tersohor dengan Kentucky Fried Chicken-nya (KFC).
Mesin photo copy Xerox sebelum tersohor seperti sekarang ini, pernah ditolak oleh 20 perusahaan.
Walt Disney runtuh 302 kali sebelum menjadi sebuah bisnis begitu gagah dan kuat. Henry Ford mengalami kebangkrutan sebanyak 5 kali. .
Saudaraku, ada resep menghadapi kegagalan yang dibagi oleh Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid.
Resep manakala kita menghadapi kegagalan berikut ini :
1.Ketika merasa gagal, mendengar berita kegagalan, atau menangkap tanda-tandanya, maka Anda harus mengucapkan kalimat istirja’, yaitu kalimat innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami berasal dari Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali) dan laa haula walaa quwwata illaa billah (tiada daya dan kekuatan, melainkan dari Allah).
2.Buanglah jauh-jauh rasa gelisah, sedih, dan putus asa.
3.Ingatlah selalu nikmat Allah dan apa yang Dia berikan kepada Anda.
4.Analisislah kegagalan itu, hasil-hasilnya, dan faktor-faktor yang menyebabkannya
5.Berpikirlah positif, penuh harap dan jangan kaitkan kegagalan Anda dengan orang lain.
6.Membantu orang lain, memberi dukungan kepada mereka, meringankan penderitaan dan musibah mereka, serta memenuhi kebutuhan mereka menjadi kunci dihapuskannya kesulitan.
Rosulloh bersabda,
”Barangsiapa yang membukakan satu kesempitan saudaranya dari kesempitan-kesempitan dunia, maka Allah akan membuka untuknya satu kesempitan dari kesempitan Hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih).
“Kita butuh kegagalan, untuk menyempurnakan sikap dan mental kita…Kewajiban manusia adalah berusaha tiada henti, tanpa kenal putus asa…Kegagalan akan menghancurkan kesombongan, sehingga menciptakan sikap rendah hati (tawadhu)… “ (Ary Ginanjar)
“Sekarang apa yang ingin Anda lakukan adalah belajar bagaimana menyikapi kegagalan. Setelah Anda mengalami kegagalan, analisislah dan temukan mengapa Anda gagal. Karena kegagalan adalah satu langkah yang akan membimbing ke puncak kesuksesan. Dan Anda tidak akan bisa sampai langkah terakhir kalau Anda tidak melewati semua langkah. Cobalah lagi apabila Anda gagal. Karena ketika pertama kali Anda melakukan sesuatu, sesungguhnya Anda adalah orang amatir (tidak profesional) – yakni seseorang yang melakukan sesuatu untuk pertama kali. Orang yang mampu sukses ketika pertama kali melakukan sesuatu sebenarnya adalah benar-benar suatu kecelakaan –di luar kebiasaan–.”( Charles Franklin Kattering, penemu starter mobil otomatis)
Kalimat Watson, pendiri IBM pasti melecutkan semangat kita
“Kalau ingin sukses, lipatgandakan kegagalan.”
Dalam menghadapi permasalahan, terkadang kita terlupa akan konsep yang paling jelas.
Bukankah Allah sudah berjanji dalam Al Qur’an Surah Alam Nasyroh : 5-6
5.Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6.Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Ibnu Jauzy Al Muhdisy mengatakan “Hari - hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan. Jadikanlah hari - harimu sarat dengan amalan yang terbaik. Kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda – nunda perkerjaan tanda orang yang merugi. Dan barangsiapa yang bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya”
Sebagai Penutup
Kita tidak pernah gagal, karena setiap langkah kita yang belum mencapai tujuan yang diharapkan sesungguhnya adalah sebuah pembelajaran terbaik yang pernah kita dapatkan. Terus berjuang dalam kehidupan kita. Bersemangatlah
Karena Harapan Itu Masih Ada
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
(QS Al Baqarah 286)

Kira-kira lebih dari satu setengah jam dalam sehari kuhabiskan waktu di jalan raya, dari satu setengah jam itu lebih dari satu jam habis di dunia kecilku, metromini. Bagi warga Jakarta waktu habis dijalan seperti hal yang wajar, mengalir dan serasa “tidak apa-apa”. Ada kehidupanku di dunia kecil itu. Dunia metromini. Sebagian besar warga ibukota yang memanfaatkan metromini sebagai jemputan mewah mereka serasa memberikan pelajaran kehidupan bagi tuannya. Banyak hal yang kupelajari, seperti kelas kehidupan yang nyata yang langsung kuaplikasikan, dihadapi langsung, berbeda dengan teori yang kulahap dalam bangku pendidikan.
Beragam manusia silih berganti menjadi tuan yang setia dihantarkan ke medan laganya. Potret beragam manusia ibukota yang seakan mampu direpresentasikan oleh dunia mini ini. Ya ini kota yang selalu sibuk dalam urusannya masing-masing, mengalir, berpacu, seperti ada melodi tersendiri yang mengalun, bukan kita yang mengatur tapi seperti kita yang harus meyesuaikan melodi itu. Siapa yang mampu harmonis maka ia yang mampu bertahan, sebaliknya bagi yang tidak bisa menyesuaikan alunannya maka ia sedikit-sedikit akan terkikis. Ini adalah potret bagi salah satu kelompok manusia yang ada di kota kita tercinta yaitu potret manusia yang mengejar ambisi. Selain itu ada kelompok manusia yang lain yang berusaha menyinkronkan alunan ibukota agar sesuai dengan aluanan liriknya sendiri. Ini banyak digunakan oleh orang yang teguh memegang falsafah orang jawa, “alon-alon waton kelakon”. Kelompok yang lain masih banyak, termasuk kelompok yang berusaha mewacanakan kebaikan, menyinkronkan yang baik dari ibukota dan mencoba mengikis sedikit demi sedikit keburukan yang selalu melekat pada tubuh ibukota.
Ada perjuangan hidup dalam metromini. Bergulir dan terus bergulir, seperti halnya metromini walau ia berhenti karena mesin usang yang membutuhkan tenaga tamabahan untuk memutar kehidupannya, sang sopir pasti lantang berteriak “DORONG NET, MINTA TOLONGLAH KAU PADA PENUMPANG,” lalu ditamabahi dengan nada yang sedikit diturunkan “Bapak-Bapak Tolong Dorong Sebentar”. Terus melaju sampai benar-banar tidak mampu lagi bergerak. Sebuah pelajaran, perjuangan sampai titik akhir….. Bukankah kalau masih ada sebiji kurma di tangan kita dan kita tahu besok kiamat, maka kita harus tetap menanamnya?
Belajar dari kehidupan di metromini, tidak selamanya kita harus menyalahkan benda yang selalu dialanogikan sebagai salah satu penyebab polusi dan kemacetan, tapi ada juga pelajaran yang bisa menjadikan kita lebih memahami eksistensi kita sebagai hamba.
Kita pasti pernah mengalami suatu hal yang menjadikan titik tolak perubahan kita. Entah itu hal yang kecil ataupun hal besar yang mampu mengubah kehidupan kita, mulai dari cara pandang hingga paradigma utama hidup atau idealisme. Dan selalu ada alasan untuk berubah, entah itu kita sadari atau tidak. Pernahkah kita sadari, sesuatu yang kecil juga mampu mengubah arah hidup kita, sesuatu yang mungkin sangat simple, sederhana dalam pandangan kita, ternyata berdampak luar biasa di suatu saat kelak. Ingat sebuah teori yang dijadikan judul film butterfly effect.
Berangkat dari teori Edward Norton Lorenz, Profesor di MIT tahun 1962 dalam bidang meteorologi merupakan landasan teori chaos pada tahun 1961.
Teori Chaos adalah teori yang berkenaan dengan sistem yang tidak teratur seperti awan, pohon, garis pantai, ombak dll : random, tidak teratur dan anarkis. Namun bila dilakukan pembagian (fraksi) atas bagian-bagian yang kecil, maka sistem yang besar yang tidak teratur ini didapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang teratur. Secara statistik: Chaos adalah kelakuan stokastik dari sistem yang deterministik. Sistem yang deterministik (sederhana, satu solusi) bila ditumpuk-tumpuk akan menjadi sistem yang stokastik (rumit, solusi banyak). Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.
(The Butterfly Effect Kebamoto (Fisika UI)–Sumber : Kompas, 25 Oktober 2002)
Atau dalam sebuah film fiksi ilmiah Amerika Serikat pada 2004 yang dibintangi oleh Ashton Kutcher, Amy Smart, Eric Stoltz dan lain-lain. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Eric Bress dan J. Mackye Gruber.
Film ini menggambarkan teori chaos, terutama yang menyangkut cuaca, yang mengusulkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat secara teoritis menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian
(http://id.wikipedia.org/wiki/The_Butterfly_Effect)
Begitupun dengan kehidupan kita, sesuatu yang kita lakukan sekarang sekecil apapun akan memberikan dampak entah itu juga kecil atau mungkin memberikan dampak luar biasa suatu saat kelak. Untuk itu jangan tunda lagi melakukan hal yang baik tapi menurut kita sederhana.
“Tumben telat akh?” sapa ku pada seorang sahabat yang tidak biasanya datang terlambat… sepengetahuan saya, sahabat saya ini adalah orang yang selalu membiasakan tepat waktu, dan mungkin diantara kami dialah yang paling bisa ontime, sering menjadi orang pertama yang datang kalau ada janji. Jika terpaksanya terlambatpun akan dihaturkan alasan yang menurut kami cukup syar’i yang menjadi penghalang.Deg.. Jleb….
Terlintas dalam pikiran, sebegitu hebatkah proses saling mewarnai dalam kehidupan ini, hingga proses mewarnai dan terwarnai yang sunatullah yang pasti kita temui itu bertarung dalam diri kita memperebutkan eksistensinya. Lalu sempat terpikir, jika saja sabahatku itu mulai terwarnai dengan budaya keterlambatan apakah aku yang merupakan temannya berkontribusi budaya terlambat padanya. Innalillah, terus bagaimnana aku bertanggungjawab atas kontribusi itu.
Sejenak kuberfikir, ya budaya itu kita yang membentuk, seperti budaya bangun tengah malam untuk qiyamul lail, budaya bersedekah, budaya hidup bersih dari korupsi, budaya tidur siang, budaya terlambat, budaya mencontek, pun budaya buruk lainya. Budaya itu baik atau buruk proses pembentukannya hampir sama. Dalam pembentukan budaya pasti pertama kali menjalaninya adalah hal yang sulit, lalu mulai terbiasa, lama kelamaan menjadi hal yang biasa kita lakukan.
Sering kita dengar nasihat tentang kehidupan, “dalam kehidupan kita hanya ada mewarnai atau terwarnai, kita memberikan budaya pada lingkungan sekitar serta kawan atau malah kita yang mengikuti arus lingkungan dan kawan kita, mana yang kuat dia yang menang, mewarnai atau terwarnai”
Memang proses itu sunatullah, karena interaksi kita sebagai makhluk. Setiap kita pasti menginginkan kebaikan. Jika kita membawa kebaikan pasti kita ingin mewarnai lingkungan dan kawan kita dengan kebaikan hingga ikut menjadi baik, tapi jika kita menemukan lingkungan yang baik maka kita ingin menjadi bagian di dalamnya agar warna kebaikannya bisa juga mewarnai kita.
Sekarang selain hal diatas kita juga harus merenungkan, bagaimana jika kita adalah warna buruk yang memberikan kontribusi keburukan bagi saudara, orang tua, teman, dan lingkungan kita. Keburukan kita menjadi tinta warna yang mempengaruhi orang lain. Betapa meruginya kita.
Semoga kita setiap saat bisa berintrospeksi diri, apakah ada hal buruk dalam diri kita yang berpotensi menjadi contoh bagi orang lain?
Setidaknya jika kita belum bisa memberikan warna kebaikan maka berusahalah untuk tidak memberikan warna keburukan.
Untuk sahabatku, maafkan atas budaya buruk terlambat, sebelum terlanjur mari bangun lagi budaya menghargai waktu.
atau
“Membenarkan yang Biasa”
Korelasi kebenaran dan kebiasaan inilah korealsi rancu yang biasa digunakan untuk membentuk dan membuat sejarah alias history (his-story). Hal-hal salah yang biasa dilakukan dalam masyarakat semakin lama akan memiliki rasa atau nilai hingga dulu hal yang dianggap salah tapi karena dilakukan terus menerus maka nilainya akan berubah sedikit demi sedikit hingga sampai pada titik kebiasaan itulah yang benar, atau lebih tepat disebut sebagai pembenaran.
Kita sering salah kaprah dalam bertindak, kita lakukan hal yang dianggap biasa padahal itu salah tapi karena biasa maka dianggap benar… tapi kita tinggalkan hal yang benar hanya karena tidak lazim dilakukan masyarakat.<
Mungkin zaman ini adalah orde ” Membenarkan yang biasa”
dan meninggalkan “Membiasakan yang benar
Semoga kita bisa kembali pada hal yang benar tanpa pembenaran… karena pembenaran bukan berarti benar.
Benar dalam beraqidah, benar dalam berakhlaq, benar dalam beribadah…….benar dalam bermuamalah, benar dalam segala segi kehidupan dan penyokong kehidupan kita.
Maka sekarang bola berada ditangan kita, apakah kita akan bergabung dalam jama’ah ” Membenarkan yang biasa” dengan terus menerus menyuntikkan paradigma pembenaran atau kita tetap bertahan dan berpendirian teguh dalam jama’ah “Membiasakan yang benar”…walau perjuangan dalam hal ini sangat berat tapi perniagaan dalam hal ini sangat menguntungkan.
Tapi perlu kita ingat dalam memilihnya supaya kita tidak kecewa pada akhir masa.
Kecewa, satu kata yang sangat lekat dengan peradaban manusia, sejak awal mas hingga akhir masa dibumi bahkan sampai di masa pertimbangan amal dan diperlihatkan apa yang akan kita dapatkan diakhirat, kecewa yang maha dasyat karena kecewa telah menyianyiakan kesempatan hidup, kesempatan untuk menjalankan amal baik.
Kalau kita ingat bahwa hidup di dunia ini sebentar, (ingat pepatah jawa “urip neng ndonya ki mung mampir ngombe- hidup di dunia ini hanya mampir minum) maka kita pasti akan bersungguh-sungguh menyiapkan perbakalan kita untuk akhirat, dan kita tidak akan mengadaikan kesenangan akhirat yang kekal dengan kesenangan semu di dunia.
Masa adalah pilihan, masa lalu adalah hal yang terjauh yang tercipta, melepas belenggu dan menguntai kasih hingga kesadaran itu tidak datang terlambat, karena kita adalah makhluk yang terbiasa meletakkan kekecewaan di akhir masa.
Ya, mengapa kekecewaan itu selalu diakhir, bisakah kita ubah letaknya di depan, hingga kita yang pro happy ending bisa menikmati skenario hidup ini……..
Pasti bisa..
ya bisa…
Mari ubah paradigma kita….kita ubah kekecewaan itu menjadi di depan, lantas bagaimana?
Dalam melangkah dan bertindak maka pertimbangkan bahwa ada reaksi dari aksi kita, jangan serampangan, bagaimana reaksi itu akan muncul tergantung dengan aksi kita. Mempertimbangkan bukan berarti kita melangkah dengan lambat, dengan lelet… tapi mempertimbangkan berarti kita tetap bisa melangkah dengan gesit, dengan sigap…..
Kalau orang jawa bilang “alon-alon waton kelakon” maka bagaimana kalau “dengan persiapan mantap, proses mantap, maka terlaksana dengan mantap” hehehe….
ingat “everything is possible, nothing imposible
kalau kita telah mempertimbankan reaksi maka kita bisa menimbang bagaimana kita apakah akan kecewa atau tidak, kalau kecewa seberapa besar tingkat kekecewaan kita, kalau sukses juga seberapa besar tingkatnya……….
Lantas ada lagi, bagaimana kalau kita sudah mempersiapkan dengan baik, proses juga sudah sempurna, tapi kok hasilnya tetap kecewa ya…. apa kesalahan saya….
jawabnya adalah anda tidak melakukan kesalahan, proses yang sudah dilalui bagaimanapun hasilnya akan berguna dan bermanfaat bagi kita, apapun hasilnya, karena skenario ALLAH lebih sempurna dari sekenario manapun dan oleh siapapun, karena ALLAH adalah sebaik-baik pembuat rencana….
ingat posting sebelumnya
Jika Allah memang belum mengabulkan apa yang kita harapkan, hiburlah diri dengan prasangka tinggi bahwa semakin Allah menunda insya Allah semakin baik kualitas yang akan Allah berikan suatu saat nanti karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya.
“Tidaklah rasa lelah, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan dan duka yang menimpa seorang muslim sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah menghapuskan dosanya karena hal-hal tesebut.” (HR. Bukhori dan Muslim)