Archive for November, 2009

Ga sepedaan dulu hari ini..

Istirahat dulu ya dengkul-dengkulku, kapan-kapan aku siksa lagi..
:melet:

Lajur Sepeda by b2w-id

Yup, hari ini adalah Car Free Day di bulan November tahun 2009 untuk wilayah Jalan Jenderal Sudirman – MH Thamrin, Jakarta.
Saatnya gowes lagi, padahal kemarin juga udah. I think another 40K wont hurt, hehe..
:sip:

Start dari Pondok Safari Indah pukul 06.05 via Pasar Bintaro-Tanah Kusir-Pakubuwono-Sisingamangaraja. Begitu sampai di Bundaran Senayan, pindah deh ke jalur cepat. Saatnya tancap gas. Eh, tancap pedal ding, ga ada gasnya.
:melet:

Udah ngebut sekenceng-kencengnya tapi tetep ga bisa ngalahin road bike..sial..
:wooo:

Di Thamrin, rekan-rekan dari bike to work Indonesia membuat “Lajur Sepeda” dan membagikan pamflet yg menganjurkan untuk ber-”bike to work” ria. Lajur yang dibuat nggak permanen sih, cuma papan plastik mirip tanda wet floor yg ada di mall/gedung. Lajur sepeda ini memisahkan antara sepeda dan non-sepeda (pejalan kaki, dll). Lajur sepeda ada di sebelah kiri, mulai dari Bundaran HI sampai Bundaran Indosat. Dijaga marshal pula, jadinya pesepeda yg bandel nyelonong keluar lajur sepeda diarahkan untuk balik ke lajur sepeda.

Setelah 55 menit bergowes, sampailah di Monumen Nasional. Karena cuma solo rider & ga ada yg kenal, akhirnya cuma ambil foto, keliling Monas 1 putaran, dan memutuskan untuk kembali. Yg penting kan cari keringetnya..

Monumen Nasional

Pas balik, mampir ke “halte” — ya, halte, karena mereka berjualan di halte — bike to work Indonesia untuk membeli beberapa merchandise. Sempet ngobrol2 juga.

Parahnya, gak nyadar kalo jersey yg kupakai kebalik luar-dalamnya. Untung jersey-nya polos & pake jahitan rantai, jadinya ya ga terlalu keliatan kalo kebalik.
:hehe:

Mmmmmmm.. Nice presentation..

Nyasar ke BSD

Start pukul 7.20an, pake MTB Leonis item, ditemani radio di K800i tune ke Mustang 88 FM. Tujuan ga jelas, yg penting kan cari keringetnya.

Keluar dari Bintaro Jaya Sektor 6, lanjut ke Sektor 7 & Sektor 9. Lewat JPG sih, tapi mau mampir dan ajrut2an di situ kok ga ada yg kenal, lanjut deh menuju BSD. Padahal juga males, sepeda barusan dicuci soalnya.
:melet:

Karena ga ngerti daerah BSD, akhirnya nyasar deh di BSD..wakakakak..
:puyeng:
Daripada tambah nyasar, ya udah, balik aja..hahaha..

Balik lewat Perigi. Sengaja pilih jalanan yg ancur, beberapa ruas cuma tanah+kubangan+batu/kerikil. MTB kok mainnya di jalan alus.
:hihi:

Rute nyasar bisa diliat di peta bawah ini.

View Larger Map
Kalo peta ga nongol lanjut aja ke sini, meskipun petanya agak meleset2 dikit sih. Kalo bener, sekitar 40km ada deh tadi sepedaannya. Lumayan lah buat ngeluarin keringet.
:sip:

sepeda

Lokasi: Perempatan Pondok Indah

Figuran: Polisi, Mbak2 pengendara motor

Setting: Lampu merah menyala, di sebelah kanan ada mbak2 pengendara motor yang lagi berhenti, di depan ada polisi.

Kejadian:

Polisi: “Maju aja mas.
(Sepeda digowes maju, eh mbak2 pengendara motor ikutan maju)
Polisi: Sepeda mbak, bukan motor. Mau tak samain sama sepeda apa? Motornya dipedal sana!

wakakakakakakak..
:ngakak:

(500) Days of Summer

(500) Days of Summer

This is not a love story. This is a story about love.


Boy meets girl. Boy falls in love. Girl doesn’t.

Bagus ni filmnya, huhuhu..
:matabelo:

Patriotisme Yang Dibenturkan

Belum lama ini saya mendengar berita dari NPR (npr.org) yang kebanyakan mengulas peristiwa insiden penembakan di markas tentara AS - Fort Hood, Texas - oleh seorang Major bernama Nidal M Hasan. Huff.. Saya hanya bisa menghela nafas. Warga Muslim AS kontan mengeluarkan sikap kecaman atas tindakan tersebut, agar tidak berbuntut pada hal yang tidak diinginkan. Yaitu munculnya sikap anti-Muslim, disaat AS, dengan presiden barunya, Obama, sedang berupaya memperbaiki hubungan dengan Muslim dunia.
”Insiden ini sangat mengerikan,” kata Imam Elsayyed Shaker, imam besar Masjid Dar Al-Hijrah di Falls Church, Virginia. Belasungkawa juga diucapkan Iqbal Khaled, wakil direktur AAMS Islamic Center di Virginia. ”Kami merasa sangat sedih,” ucapnya, seperti yang dilansir oleh Republika Online.

Bagaimanapun juga, tindakan ini tidak dibenarkan. Peristiwa ini hanya akan berimbas pada munculnya sikap atipati rakyat AS terhadap komunitas warga Muslim disana. Spekulasi pun bermunculan seakan ingin memicu wacana menyudutkan warga Muslim disana, yang notabene satu agama dengan pelaku insiden penembakan Fort Hood tersebut.

Patriotisme yang dibenturkan

Saya sangat sulit membayangkan jika suatu ketika, harus berhadapan langsung dengan saudara-saudara kita sesama Muslim di medan pertempuran, hanya karena tuntutan pekerjaan. “Contradiction of being a Muslim and serving in an army that is fighting against his own people.”

Mungkin ketika seseorang memilih jalur karirinya sebagai tentara, awalnya punya motivasi tinggi untuk membela tanah-airnya, membela negerinya, menjadi seorang patriot, pahlawan, atau someone who became a hero to his country, sah-sah saja. Tapi siapa sangka patriotisme itu suatu saat akan diuji, siapa yang lebih engkau pilih, patriotisme kah? Atau idealisme?

Ah, saya berharap saudara-saudara kita yang berada di posisi itu diberi kekuatan untuk tetap menjunjung tinggi idealisme mereka sebagai seorang Muslim. Ingatlah saya akan cerita teman-teman tentang situasi kerja di tempat mereka bekerja. Kebetulan mereka bekerja di perusahaan asing, perusahaan non-Indonesia. Kadang teman-teman saya harus merelakan idealisme mereka sebagai seorang Muslim hanya karena tuntutan pekerjaan. Bagi mereka itu pilihan yang sulit.

Dan itu tak hanya berlaku di pekerjaan loh. Di organisasi pun ada kalanya begitu. Kadang kita diuji untuk memilih antara mengikuti peraturan organisasi atau tetap dalam idealisme. Misalnya, kalau dalam organisasi, ketika ada acara malam yang mengharuskan ikhtilat, campur-baur-nya laki-laki dan perempuan tanpa mengindahkan kaidah syar’i, mana yang engkau pilih?

Hidup memang sering berbenturan. Kita harus akui itu. Seperti yang saya bilang di awal, saya sendiri tak bisa membayangkan berada di posisi Major Nidal M Hasan, ketika harus berangkat ke Iraq, berposisi sebagai musuh warga Muslim Iraq disana. Saya hanya bisa bersyukur bahwa Allah menjauhkan diri saya dari benturan-benturan idealisme semacam itu. Saya hanya bisa bersyukur, dan mudah-mudahan terus bersyukur, untuk masih berada di tubuh yang sama, merasakan pahit dan sedih yang sama, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim)

Terakhir saya tuliskan,
Ketika “patriotisme itu dibenturkan”,
Mari do’akan semoga Allah memberi kekuatan. (ya2n)

Patriotisme Yang Dibenturkan

Belum lama ini saya mendengar berita dari NPR (npr.org) yang kebanyakan mengulas peristiwa insiden penembakan di markas tentara AS - Fort Hood, Texas - oleh seorang Major bernama Nidal M Hasan. Huff.. Saya hanya bisa menghela nafas. Warga Muslim AS kontan mengeluarkan sikap kecaman atas tindakan tersebut, agar tidak berbuntut pada hal yang tidak diinginkan. Yaitu munculnya sikap anti-Muslim, disaat AS, dengan presiden barunya, Obama, sedang berupaya memperbaiki hubungan dengan Muslim dunia.
”Insiden ini sangat mengerikan,” kata Imam Elsayyed Shaker, imam besar Masjid Dar Al-Hijrah di Falls Church, Virginia. Belasungkawa juga diucapkan Iqbal Khaled, wakil direktur AAMS Islamic Center di Virginia. ”Kami merasa sangat sedih,” ucapnya, seperti yang dilansir oleh Republika Online.

Bagaimanapun juga, tindakan ini tidak dibenarkan. Peristiwa ini hanya akan berimbas pada munculnya sikap atipati rakyat AS terhadap komunitas warga Muslim disana. Spekulasi pun bermunculan seakan ingin memicu wacana menyudutkan warga Muslim disana, yang notabene satu agama dengan pelaku insiden penembakan Fort Hood tersebut.

Patriotisme yang dibenturkan

Saya sangat sulit membayangkan jika suatu ketika, harus berhadapan langsung dengan saudara-saudara kita sesama Muslim di medan pertempuran, hanya karena tuntutan pekerjaan. “Contradiction of being a Muslim and serving in an army that is fighting against his own people.”

Mungkin ketika seseorang memilih jalur karirinya sebagai tentara, awalnya punya motivasi tinggi untuk membela tanah-airnya, membela negerinya, menjadi seorang patriot, pahlawan, atau someone who became a hero to his country, sah-sah saja. Tapi siapa sangka patriotisme itu suatu saat akan diuji, siapa yang lebih engkau pilih, patriotisme kah? Atau idealisme?

Ah, saya berharap saudara-saudara kita yang berada di posisi itu diberi kekuatan untuk tetap menjunjung tinggi idealisme mereka sebagai seorang Muslim. Ingatlah saya akan cerita teman-teman tentang situasi kerja di tempat mereka bekerja. Kebetulan mereka bekerja di perusahaan asing, perusahaan non-Indonesia. Kadang teman-teman saya harus merelakan idealisme mereka sebagai seorang Muslim hanya karena tuntutan pekerjaan. Bagi mereka itu pilihan yang sulit.

Dan itu tak hanya berlaku di pekerjaan loh. Di organisasi pun ada kalanya begitu. Kadang kita diuji untuk memilih antara mengikuti peraturan organisasi atau tetap dalam idealisme. Misalnya, kalau dalam organisasi, ketika ada acara malam yang mengharuskan ikhtilat, campur-baur-nya laki-laki dan perempuan tanpa mengindahkan kaidah syar’i, mana yang engkau pilih?

Hidup memang sering berbenturan. Kita harus akui itu. Seperti yang saya bilang di awal, saya sendiri tak bisa membayangkan berada di posisi Major Nidal M Hasan, ketika harus berangkat ke Iraq, berposisi sebagai musuh warga Muslim Iraq disana. Saya hanya bisa bersyukur bahwa Allah menjauhkan diri saya dari benturan-benturan idealisme semacam itu. Saya hanya bisa bersyukur, dan mudah-mudahan terus bersyukur, untuk masih berada di tubuh yang sama, merasakan pahit dan sedih yang sama, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim)

Terakhir saya tuliskan,
Ketika “patriotisme itu dibenturkan”,
Mari do’akan semoga Allah memberi kekuatan. (ya2n)

Tempat Kelelahan

Anak kecil ingin jadi besar dan tua,
Sedangkan orang tua ingin muda kembali,

Orang yang tidak punya pekerjaan mencari-cari kerja,
Sedang mereka yang punya kerja merasa jenuh,

Para pemilik harta merasa kepayahan,
Orang miskin juga merasa kesusahan,

Seseorang merasa susah karena kalah,
Tiada pula yang menang merasa bahagia,

Apakah mereka bingung dengan takdir,
Ataukah mereka yang membingungkan takdir?

Abbas Mahmud Al-Aqqad dalam sya’ir-nya.

Tempat Kelelahan

Anak kecil ingin jadi besar dan tua,
Sedangkan orang tua ingin muda kembali,

Orang yang tidak punya pekerjaan mencari-cari kerja,
Sedang mereka yang punya kerja merasa jenuh,

Para pemilik harta merasa kepayahan,
Orang miskin juga merasa kesusahan,

Seseorang merasa susah karena kalah,
Tiada pula yang menang merasa bahagia,

Apakah mereka bingung dengan takdir,
Ataukah mereka yang membingungkan takdir?

Abbas Mahmud Al-Aqqad dalam sya’ir-nya.