Archive for September, 2009

On Pain

Your pain is the breaking of the shell that encloses
your understanding.

Even as the stone of the fruit must break, that its
heart may stand in the sun, so must you know pain.

And could you keep your heart in wonder at the
daily miracles of your life, your pain would not seem
less wondrous than your joy;

And you would accept the seasons of your heart,
even as you have always accepted the seasons that
pass over your fields.

And you would watch with serenity through the
winters of your grief.

Much of your pain is self-chosen.

It is the bitter potion by which the physician within
you heals your sick self.

Therefore trust the physician, and drink his remedy
in silence and tranquillity:

For his hand, though heavy and hard, is guided by
the tender hand of the Unseen,

And the cup he brings, though it burn your lips, has
been fashioned of the clay which the Potter has
moistened with His own sacred tears.

- Khalil Gibran -

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin
Mohon maaf atas segala kesalahan, baik yang disengaja atau pun tidak.
Semoga kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan tahun depan, amin.

Cerita ini terjadi di negara tercintaku, saat ini dan beberapa waktu kedepan tepatnya dipenghujung Ramadhan yang mulia akan terjadi demam “pulang kampung”, merajut tali silaturahim.

“Lebaran” itu kalimat sakti yang menjadi idola, saatnya berkumpul bersama keluarga yang dalam satu tahun jarang bertemu karena berbagai alasan, saatnya melakukan perjuangan memburu tiket demi pulang kampung tepat waktu.

Lantas kalo tiap tahun kita diingatkan oleh adanya ritual “pulang kampung”, apakah kita juga setiap saat mengingat bahwa kita semua pasti “pulang kampung” juga, karena kita semua memiliki kampung yaitu akhirat………jadi judulnya menjadi “Pulang (ke) Kampung (Akhirat)”

Apa yang kita siapkan jika akan pulang kampung, tentu saja perbekalan yang mantap, perbekalan yang kita harapkan dapat membawa keselamatan bagi kita dan keluarga kita hingga dapat sampai di rumah dengan selamat. Bagi pengendara kendaraan bermotor (mengendarai mobil maupun sepeda motor) pasti banyak yangharus disiapkan baik keperluan manusia juga persiapan kendaraannya. Begitupun seharusnya kita memadang apa yang harus kita siapkan jika kita nanti pulang ke kampung akhirat.

Bukankah untuk pulang kampung setiap lebaran belum tentu setiap orang melakukannya, tapi pulang ke kampung akhirat pasti setiap orang akan menjalaninya, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Mari kita ingat, selepas menjalankan puasa di bulan Ramadhan kita akan menemui lebaran, tapi ingat pula bahwa kita akan berlebaran (bertemu) dengan ALLAH dan berharap akan bergembira dengan puasa kita.

“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dza yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi ALLAH pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi oran yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembir dengan bukanya dan ketika bertemu ALLAH mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Selamat pulang kampung, semoga selamat dan membawa keberkahan.

Siapakan juga perbekalan untuk pulang ke kampung akhirat.

“Demi masa”, kemarin saat ifthar jama’i di kantor, Pak Agus, menyampaikan kultum dengan mengutip Qur’an Surah Al ‘Asr

“Demi Masa

Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian
Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”

Entah mengapa menulis tentang masa adalah hal yang sangat menarik buatku. Kita pasti teringat kembali dan sengaja dipacu untuk ingat bahwa waktu kita di dunia tidaklah selamanya. Waktu kita terbatas, dan yang menjadi batas adalah ajal. Saat Izrail menjalankan tugasnya terhadap tubuh kita maka saat itulah jam pasir kehidupan kita di dunia telah usai. Lantas apakah yang dapat kita perbuat setelah itu, apakah akan mengisi dengan sesal yang sangat dahsyat?

Suatu ketika ada seorang dokter bercerita dalam kultumnya (maaf lupa siapa nama dokter itu), ceritanya seperti ini
“ada sesorang yang divonis sakit yang sudah parah sehingga dokternya menvonis harapan hidupnya tinggal beberapa bulan (ini menurut catatan medis, karena saya yakin sang dokterpun takkan mampu memprediksi secara tepan kapan Izrail AS akan datang pada orang itu), kemudian dia melakuakn perjalanan entah kemana tujuannya ia sendiri pun tidak tahu, dalam hatinya hanya ingin berjalan sekehendak hatinya, dan saat hatinya merasa nyaman maka ia akan berhenti di suatu klinik. Sampailah ia pada suatu klinik lalu berhenti, saat itu jam praktek sang dokter sudah tutup, tapi ia tetap saja mengetuk pintu. Alhamdulillah doktenya baik hati, dibukakan pintu dan dilayani orang itu.
Terjadi perbincangan diantara keduanya
Dokter : ” Anda sakit apa pak?”
Pasien : ” Saya tidak tahu dok”
Dokter : ” Baiklah saya periksa dulu”

Setelah diperiksa dan ditanya sakit dan lain sebagainya sampailah pada simpulan sang dokter bahwa sang pasien mengidap penyakit yang cukup parah.

Sang pasien lalu tertawa dan terlihat bahagia

Dokter : ” Mengapa anda justru bahagia dengan sakit anda, kebanyakan orang pasti akan langsung patah semangat hidup, murung” , tanya sang dokter.

Pasien : ” Sebenarnya saya sudah mengetahui sakit saya, sayapun sudah mengetahui harapan hidup saya tinggal 2 bulan, saya hanya ingin memastikan ketenangan hati saya dengan melakukan perjalanan dan ALLAH yang menghentikan saya di depan klinik anda dengan memberikan ketenangan dalam hati saya”

Pasien : “Alhamdulillah dok, saat ini saya sudah bisa menerima penyakit saya, justru saya sangat merasa bahagia karena saya tahu sisa hidup saya dan saya bisa memamfaatkannya untuk beribadah dengan lebih baik, memohon ampunan ALLAH”

Cerita tersebut sangat mengusikku, apakah aku harus diperingatkan dengan cara seperti itu untuk memperbaiki kualitas ibadahku, soalnya sekarang saja ibadah ku sangat buruk kualitasnya, padahal ajal belum tentu tahu kapan datang nya, bisa esok, bisa lusa atau bahkan bisa nanti malam, Astagfirullah, bukan kematian yang kutakutkan tapi aku takut akan kesempatan yang kusia-siakan. Kesempatan yang begitu luas untuk beribadah.

Kesempatan waktu yang sering kali ku buang sia-sia. Semoga kita dapat menjadi lebih baik, memanfaatkan sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Memanfaatkan semakin sempitnya kesempatan kita di dunia.