Kemarin pas surfing-surfing nemu link ini: blog.stei.itb.ac.id. Ternyata STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB bikin wordpress machine buat civitas akademianya. Wah, lumayan, bisa buat nulis-nulis tentang teknologi disini . Dulu sih, sempat pengen bikin blog tech juga disini cuma nggak keurus. Habis nemu link in ijadi semnagat bikin blog tech lagi, hehehe. So here we are: http://blog.stei.itb.ac.id/yansyafri.
Kemarin pas surfing-surfing nemu link ini: blog.stei.itb.ac.id. Ternyata STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB bikin wordpress machine buat civitas akademianya. Wah, lumayan, bisa buat nulis-nulis tentang teknologi disini . Dulu sih, sempat pengen bikin blog tech juga disini cuma nggak keurus. Habis nemu link in ijadi semnagat bikin blog tech lagi, hehehe. So here we are: http://blog.stei.itb.ac.id/yansyafri.
Tertahan laju kano kayuku mataku tertumpu
Tarian riang primata yang tak malu - malu
Sementara sang nokturnal menatap dan tersipu
Hingga kapankah aku nikmati suara alam
yang penuh dengan kemegahan
rantai emas kehidupan
Tiada kan terbeli anugrah yang sejati
Tertahan laju kano kayuku mataku tertumpu
Tarian riang primata yang tak malu - malu
Sementara sang nokturnal menatap dan tersipu
Hingga kapankah aku nikmati suara alam
yang penuh dengan kemegahan
rantai emas kehidupan
Tiada kan terbeli anugrah yang sejati
Sekarang saya akan mengajak anda bertamasya, siapkan perbekalan, karena kita akan mengunjungi tempat yang sangat indah. Sesekali perlulah untuk menjernihkan kembali jiwa dan raga kita setelah dalam keseharian bergulat dengan pekerjaan.
Saya akan mengajak anda bertamasya ke sebuah negeri yang bernama “kejujuran”.
Sebelumnya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan, untuk menentukan siapa saja yang berhak ikut serta.
Pertanyaannya :
1. Mari kita jujur tanyakan kepada diri kita : “hari ini apa ya yang aku keluhkan, kemarin apa, pekan kemarin, bulan kemarin, tahun kemarin….. apa saja ya keluhanku?”
Silakan kalau masih ingat tulis dalam point-point.
2. Dalam sehari pernahkah anda menghitung nikmat yang anda dapatkan?
3. Dalam sepekan pernahkan anda membandingkan jumlah nikmat yang anda dapatkan dengan ungkapan syukur yang anda ucapkan?
Kemudian saya akan membagikan kepada anda sebuah note, silakan anda baca sebagai persiapan perjalanan kita :
Teman, sudahkan anda jawab semua pertanyaannya, dan sudah selesaikan membaca note yang saya bagikan. Sebenarnya perjalanan ini anda lah yang menentukan apakah anda bisa ikut serta atau tidak. Jika anda jujur menjawab pertanyaan diatas dan anda bisa membandingkan jawabannya maka anda secara otomastis bisa mengikuti tamasya ini. Oke sekarang saya rasa ini saatnya kita akan berangkat menuju negeri “kejujuran”. Bersiap-siaplah.
Kelebihan OpenSparc ini adalah, kata David, selain karena prosesor 64-bit pertama yang di-open-source-kan, juga karena kemampuannya untuk hardware multi-threading dan multi core. Jadi kombinasi antara multi thread dan multi core. Jika satu core bisa memiliki 4 hardware threading, dan 1 chip ada 8 core, maka prosesor bisa memiliki 32 thread. Multi threading disini tentu beda dengan istilah multi thread software. Kalau mau lihat selengkapnya silakan buka opensparc.net.
Btw, kemarin terjadi sedikit perbincangan antar teman, “Terus apa sih untung yang mereka dapatkan dengan cara meng-open-source-kan prosesor mereka?”. Yup, itulah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada kalangan pecinta opensource. Saya sendiri meyakini bahwa tidak ada satupun yang gratis-tis. Sesuatu harus ada interest-nya, apalagi jika produk itu keluar dari dunia Barat. Bahkan yayasan sosial pun harus punya interest, tidak seperti Indonesia yang lebih agamis, mengeluarkan zakat tanpa ada interest duniawi. Loh, malah jadi ngomong kemana-mana.
Back to topic. Nah, lalu apa interest yang mereka dapatkan dari meng-open-source-kan produk mereka? Mungkin ada beberapa hal, dan ini berlaku bagi semua jenis opensource baik hardware maupun software.
Pertama, mereka ingin membuat produk atau platform atau apapun, tapi tidak ingin mengeluarkan cost untuk validasi dan verifikasi ataupun tidak yakin akan desainnya sendiri sehingga di-open dengan harapan semua orang mencobanya dan memberikan feedback berupa bug report kepadanya.
Kedua, bukan code yang mereka jual, tetapi support. Banyak kasus dimana ketika mengimplementasikan produk yang open-source akhirnya mentok di tengah jalan karena buggy. Akhirnya terpaksa meminta support dari open-source provider. Kasus ini pernah terjadi dan saya lihat sendiri.
Ketiga, jualan buku dan manual. Mereka men-open-source-kan produk, tapi manual, cara memakai, cara mendebug, cara memodifikasi dan menambahkan fitur atau aplikasi, disembunyikan dan hanya bisa diperoleh dengan cara membeli.
Keempat, ingin mencari ketenaran. Dengan meng-open-source-kan produknya, dia bisa memperlihatkan kemampuan kepada community, apalagi jika produknya banyak digunakan. Dengan begitu dia dapat track-record lalu akan lebih mudah mendapatkan investasi, atau bisa jadi produknya akan dibeli perusahaan besar.
Dan lain-lain, tentu motif setiap orang berbeda-beda. Tapi bagaimanapun juga, selama terjadi lingkaran mutualisme, saling memberikan keuntungan saya pikir tidak masalah. Dan saya pribadi sih cenderung mendunkung open-source. Beda dengan komunitas Windows yang anti open-source. Alasan mereka sih tanggung jawab nya tidak jelas. Yah selalu ada perdebatan antara keduanya. Yup, open-source akan selalu menjadi sesuatu yang menarik dan fenomena ini kian hari kian ramai saja. Anda sendiri tentu punya pendapat tentang open-source ini.
Oiya, saya sedikit ngobrol dengan David Weaver ini. Yah, pertanyaan saya sederhana saja, seberapa matang RTL code (verilog) yang dia open-kan itu, apakah siap untuk ASIC implementation? Dia hanya bisa jawab, mereka sudah proven sampai ASIC implementation. Sedangkan untuk implementasi di FPGA sudah ada Evaliation Kit package nya dari Xilinx. Jadi seharusnya RTL codenya sudah matang. Tapi apakah RTL code yang matang itu open? Dari pengalaman, RTL code yang bisa diimplemtasikan di FPGA belum tentu OK untuk di implementasikan di ASIC, karena verification flow di ASIC lebih ketat. Ya who knows, mari kita lihat apakah OpenSparc sematang itu atau tidak.
Lalu, kata David, ternyata mereka ada kerjasama dengan Gaisler juga, salah satu open-source processor yang memakai arsitektus sparc. Dia bilang, untuk 32-bit system mereka menyarankan memakai prosesor LEON dari Gaisler, tapi Gaisler hanya punya 1 core 1 thread processor dan 32-bit. Tapi OpenSparc tidak punya AMBA bus, dan bus itu mereka peroleh dari Gaisler. Hohoho, interesting. Semoga program OpenSparc-nya sukses Sir, for mutual interest ;).
ps. gambar dicomot dari padepokan pak Budi
Kelebihan OpenSparc ini adalah, kata David, selain karena prosesor 64-bit pertama yang di-open-source-kan, juga karena kemampuannya untuk hardware multi-threading dan multi core. Jadi kombinasi antara multi thread dan multi core. Jika satu core bisa memiliki 4 hardware threading, dan 1 chip ada 8 core, maka prosesor bisa memiliki 32 thread. Multi threading disini tentu beda dengan istilah multi thread software. Kalau mau lihat selengkapnya silakan buka opensparc.net.
Btw, kemarin terjadi sedikit perbincangan antar teman, “Terus apa sih untung yang mereka dapatkan dengan cara meng-open-source-kan prosesor mereka?”. Yup, itulah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada kalangan pecinta opensource. Saya sendiri meyakini bahwa tidak ada satupun yang gratis-tis. Sesuatu harus ada interest-nya, apalagi jika produk itu keluar dari dunia Barat. Bahkan yayasan sosial pun harus punya interest, tidak seperti Indonesia yang lebih agamis, mengeluarkan zakat tanpa ada interest duniawi. Loh, malah jadi ngomong kemana-mana.
Back to topic. Nah, lalu apa interest yang mereka dapatkan dari meng-open-source-kan produk mereka? Mungkin ada beberapa hal, dan ini berlaku bagi semua jenis opensource baik hardware maupun software.
Pertama, mereka ingin membuat produk atau platform atau apapun, tapi tidak ingin mengeluarkan cost untuk validasi dan verifikasi ataupun tidak yakin akan desainnya sendiri sehingga di-open dengan harapan semua orang mencobanya dan memberikan feedback berupa bug report kepadanya.
Kedua, bukan code yang mereka jual, tetapi support. Banyak kasus dimana ketika mengimplementasikan produk yang open-source akhirnya mentok di tengah jalan karena buggy. Akhirnya terpaksa meminta support dari open-source provider. Kasus ini pernah terjadi dan saya lihat sendiri.
Ketiga, jualan buku dan manual. Mereka men-open-source-kan produk, tapi manual, cara memakai, cara mendebug, cara memodifikasi dan menambahkan fitur atau aplikasi, disembunyikan dan hanya bisa diperoleh dengan cara membeli.
Keempat, ingin mencari ketenaran. Dengan meng-open-source-kan produknya, dia bisa memperlihatkan kemampuan kepada community, apalagi jika produknya banyak digunakan. Dengan begitu dia dapat track-record lalu akan lebih mudah mendapatkan investasi, atau bisa jadi produknya akan dibeli perusahaan besar.
Dan lain-lain, tentu motif setiap orang berbeda-beda. Tapi bagaimanapun juga, selama terjadi lingkaran mutualisme, saling memberikan keuntungan saya pikir tidak masalah. Dan saya pribadi sih cenderung mendunkung open-source. Beda dengan komunitas Windows yang anti open-source. Alasan mereka sih tanggung jawab nya tidak jelas. Yah selalu ada perdebatan antara keduanya. Yup, open-source akan selalu menjadi sesuatu yang menarik dan fenomena ini kian hari kian ramai saja. Anda sendiri tentu punya pendapat tentang open-source ini.
Oiya, saya sedikit ngobrol dengan David Weaver ini. Yah, pertanyaan saya sederhana saja, seberapa matang RTL code (verilog) yang dia open-kan itu, apakah siap untuk ASIC implementation? Dia hanya bisa jawab, mereka sudah proven sampai ASIC implementation. Sedangkan untuk implementasi di FPGA sudah ada Evaliation Kit package nya dari Xilinx. Jadi seharusnya RTL codenya sudah matang. Tapi apakah RTL code yang matang itu open? Dari pengalaman, RTL code yang bisa diimplemtasikan di FPGA belum tentu OK untuk di implementasikan di ASIC, karena verification flow di ASIC lebih ketat. Ya who knows, mari kita lihat apakah OpenSparc sematang itu atau tidak.
Lalu, kata David, ternyata mereka ada kerjasama dengan Gaisler juga, salah satu open-source processor yang memakai arsitektus sparc. Dia bilang, untuk 32-bit system mereka menyarankan memakai prosesor LEON dari Gaisler, tapi Gaisler hanya punya 1 core 1 thread processor dan 32-bit. Tapi OpenSparc tidak punya AMBA bus, dan bus itu mereka peroleh dari Gaisler. Hohoho, interesting. Semoga program OpenSparc-nya sukses Sir, for mutual interest ;).
ps. gambar dicomot dari padepokan pak Budi
Reprinted from http://www.bottomlinesecrets.com/article.html?article_id=16132
Lightening your physical load by throwing garage sales, giving away your old clothes and moving to a smaller house won’t automatically give you peace of mind.
To achieve calmness you need to break free of the mind-cluttering habits, worries and distractions that tie you in knots. Your life will be simpler only if you work on freeing your mind. Here are some practical steps you can take now…
ESSENTIALS OF SIMPLIFYING
Learn to love voice mail. It can be a huge time-saver and an excellent way to pass along information without
being interrupted.
Example: Return telephone calls in the evening if you can answer specific questions on voice mail. This takes only a minute or two versus engaging in a 10- to 15-minute conversation.
When we embrace change, we open the door to a far more peaceful existence. Then life becomes more of an adventure and each step seems more special and important.
It’s like pressing the reset button and providing ourselves with a fresh start.