Archive for June, 2009

New Blog on Tech

Kemarin pas surfing-surfing nemu link ini: blog.stei.itb.ac.id. Ternyata STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB bikin wordpress machine buat civitas akademianya. Wah, lumayan, bisa buat nulis-nulis tentang teknologi disini . Dulu sih, sempat pengen bikin blog tech juga disini cuma nggak keurus. Habis nemu link in ijadi semnagat bikin blog tech lagi, hehehe. So here we are: http://blog.stei.itb.ac.id/yansyafri.

New Blog on Tech

Kemarin pas surfing-surfing nemu link ini: blog.stei.itb.ac.id. Ternyata STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB bikin wordpress machine buat civitas akademianya. Wah, lumayan, bisa buat nulis-nulis tentang teknologi disini . Dulu sih, sempat pengen bikin blog tech juga disini cuma nggak keurus. Habis nemu link in ijadi semnagat bikin blog tech lagi, hehehe. So here we are: http://blog.stei.itb.ac.id/yansyafri.

Meander

Arungi meander terapung di hutan hujan
Saat taiga menyapa ramah kanopi memayungi
Semilir nada angin berseling efipit warna - warni
Disaat aku menikmati oh cantiknya suatu sudut bumi

Tertahan laju kano kayuku mataku tertumpu
Tarian riang primata yang tak malu - malu
Sementara sang nokturnal menatap dan tersipu

Hingga kapankah aku nikmati suara alam
yang penuh dengan kemegahan
rantai emas kehidupan
Tiada kan terbeli anugrah yang sejati

Meander

Arungi meander terapung di hutan hujan
Saat taiga menyapa ramah kanopi memayungi
Semilir nada angin berseling efipit warna - warni
Disaat aku menikmati oh cantiknya suatu sudut bumi

Tertahan laju kano kayuku mataku tertumpu
Tarian riang primata yang tak malu - malu
Sementara sang nokturnal menatap dan tersipu

Hingga kapankah aku nikmati suara alam
yang penuh dengan kemegahan
rantai emas kehidupan
Tiada kan terbeli anugrah yang sejati

Pagi ini aku nyari-nyari link untuk al-qur’an online, trus dapet link ini: http://www.quranexplorer.com/. Kayaknya udah pernah dikasih dulu sama Lakso dan udah berkali-kali buka, cuma lupa link-nya. Alhamdulillah link yang bagus. Kita bisa pilih berbagai bahasa, bahkan ada audionya juga, bahkan ada petunjuk tajwid-nya juga. Lengkap dech.
Jreng-jreng, apakah gerangan gambar diatas? Ternyata itu adalah gambar sample/statistik pengunjung web tersebut. Wah, Alhamdulillah, ternyata peminat Al-Qur’an online banyak datang dari US dan Eropa juga. Yah, tentu selain karena infrastruktur internet disana lebih maju, juga karena Islam mulai ramai diperhatikan.
Kebetulan temen baru pulang dari Ohio Univ untuk ikut program belajar bahasa Inggris dua bulan. Program ini diadakan rutin tiap tahun, setiap bulan April-Mei kalau nggak salah. Kata dia, di Univ tersebut ada Islamic Centernya. Tiap Jum’at ada pekan makanan halal-nya. Dia biasa makan-makan gratis disana. Banyak juga siswa yang memakai jilbab, bahkan temennya yang dari Arab malah memakai cadar. No problem bagi mereka.
Bahkan lagi, ada temannya yang akhwat, berjilbab, di Ohio selama dua bulan juga. Ceritanya, room-mate nya heran dengan kebiasaan berjilbab dan shalatnya. Tepatnya bukan heran, tapi penasaran. Lalu terjadilah diskusi. Dia sendiri mengaku Nasrani tapi nggak banget-banget. Istilahnya abangan. Kata dia, dia bingung dengan konsep trinitas yang dia pikir nggak logis. Humm, that’s right. Bukan cuma itu, bahkan ada sesorang yang meminjam Al-Qur’an, lalu dibahas rame-rame di dalam kelas. Entah ketika break atau gimana, aku kurang jelas. Jadi, yang mau sekolah ke US (Berkeley gitu, =p) nggak usah takut ya, udah banyak kok, Muslim Community-nya, hehe. Kata orang, masyarakat dan pemerintah itu beda. Yang gembar-gembor merong-rong dunia Islam itu pemerintahnya, masyarakatnya mah.. santei-santei aja.
Yup, Al-Qur’an memang mu’jizat Allah. Dimanapun kapanpun akan menjadi primadona yang terus diperbincangkan orang, terus digali dan dipelajari orang. Alhamdulillah kita dikaruniai keimanan sampai saat ini, dan mudah-mudahan sampai akhir zaman. Dunia Barat aja udah mulai meminati Al-Qur’an, gimana kita yang udah Muslim sejak kecil? Yuk ngaji… yuuukk =)
Pagi ini aku nyari-nyari link untuk al-qur’an online, trus dapet link ini: http://www.quranexplorer.com/. Kayaknya udah pernah dikasih dulu sama Lakso dan udah berkali-kali buka, cuma lupa link-nya. Alhamdulillah link yang bagus. Kita bisa pilih berbagai bahasa, bahkan ada audionya juga, bahkan ada petunjuk tajwid-nya juga. Lengkap dech.
Jreng-jreng, apakah gerangan gambar diatas? Ternyata itu adalah gambar sample/statistik pengunjung web tersebut. Wah, Alhamdulillah, ternyata peminat Al-Qur’an online banyak datang dari US dan Eropa juga. Yah, tentu selain karena infrastruktur internet disana lebih maju, juga karena Islam mulai ramai diperhatikan.
Kebetulan temen baru pulang dari Ohio Univ untuk ikut program belajar bahasa Inggris dua bulan. Program ini diadakan rutin tiap tahun, setiap bulan April-Mei kalau nggak salah. Kata dia, di Univ tersebut ada Islamic Centernya. Tiap Jum’at ada pekan makanan halal-nya. Dia biasa makan-makan gratis disana. Banyak juga siswa yang memakai jilbab, bahkan temennya yang dari Arab malah memakai cadar. No problem bagi mereka.
Bahkan lagi, ada temannya yang akhwat, berjilbab, di Ohio selama dua bulan juga. Ceritanya, room-mate nya heran dengan kebiasaan berjilbab dan shalatnya. Tepatnya bukan heran, tapi penasaran. Lalu terjadilah diskusi. Dia sendiri mengaku Nasrani tapi nggak banget-banget. Istilahnya abangan. Kata dia, dia bingung dengan konsep trinitas yang dia pikir nggak logis. Humm, that’s right. Bukan cuma itu, bahkan ada sesorang yang meminjam Al-Qur’an, lalu dibahas rame-rame di dalam kelas. Entah ketika break atau gimana, aku kurang jelas. Jadi, yang mau sekolah ke US (Berkeley gitu, =p) nggak usah takut ya, udah banyak kok, Muslim Community-nya, hehe. Kata orang, masyarakat dan pemerintah itu beda. Yang gembar-gembor merong-rong dunia Islam itu pemerintahnya, masyarakatnya mah.. santei-santei aja.
Yup, Al-Qur’an memang mu’jizat Allah. Dimanapun kapanpun akan menjadi primadona yang terus diperbincangkan orang, terus digali dan dipelajari orang. Alhamdulillah kita dikaruniai keimanan sampai saat ini, dan mudah-mudahan sampai akhir zaman. Dunia Barat aja udah mulai meminati Al-Qur’an, gimana kita yang udah Muslim sejak kecil? Yuk ngaji… yuuukk =)

Sekarang saya akan mengajak anda bertamasya, siapkan perbekalan, karena kita akan mengunjungi tempat yang sangat indah. Sesekali perlulah untuk menjernihkan kembali jiwa dan raga kita setelah dalam keseharian bergulat dengan pekerjaan.
Saya akan mengajak anda bertamasya ke sebuah negeri yang bernama “kejujuran”.
Sebelumnya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan, untuk menentukan siapa saja yang berhak ikut serta.

Pertanyaannya :
1. Mari kita jujur tanyakan kepada diri kita : “hari ini apa ya yang aku keluhkan, kemarin apa, pekan kemarin, bulan kemarin, tahun kemarin….. apa saja ya keluhanku?”
Silakan kalau masih ingat tulis dalam point-point.
2. Dalam sehari pernahkah anda menghitung nikmat yang anda dapatkan?
3. Dalam sepekan pernahkan anda membandingkan jumlah nikmat yang anda dapatkan dengan ungkapan syukur yang anda ucapkan?

Kemudian saya akan membagikan kepada anda sebuah note, silakan anda baca sebagai persiapan perjalanan kita :

Teman, sudahkan anda jawab semua pertanyaannya, dan sudah selesaikan membaca note yang saya bagikan. Sebenarnya perjalanan ini anda lah yang menentukan apakah anda bisa ikut serta atau tidak. Jika anda jujur menjawab pertanyaan diatas dan anda bisa membandingkan jawabannya maka anda secara otomastis bisa mengikuti tamasya ini. Oke sekarang saya rasa ini saatnya kita akan berangkat menuju negeri “kejujuran”. Bersiap-siaplah.

Kemarin (8/6) ada OpenSparc Training di Campus Center ITB. Tempat yang sudah lama sekali nggak saya kunjungi semenjak lulus. Kebanyakan yang hadir adalah mahasiswa STEI, walaupun ada banyak yang dari luar akademia, seperti dari VS (;D). Beberapa dosen juga hadir. Training ini diorganisasi oleh Lab IC design ITB, tampat Pak Trio, dan disponsori juga oleh Versatile Silicon Tech.
Penyaji materi pertama adalah David Weaver, chief OpenSparc dari Sun Microsystem. Sebenarnya kalau disebut training kurang tapat, karena pikiran saya kalau training akan ada handout dan praktek langsung. Tapi ternyata kemarin jadi seperti seminar biasa. But it’s ok, masih banyak hal yang bisa diperoleh adri seminar itu. David banyak cerita mengenai sejarah OpenSparc, lalu arsitektur OpenSparc dan kelebihannya. Materi terakhir adalah video yang membahas OpenSparc simulator dan verification tools.

Kelebihan OpenSparc ini adalah, kata David, selain karena prosesor 64-bit pertama yang di-open-source-kan, juga karena kemampuannya untuk hardware multi-threading dan multi core. Jadi kombinasi antara multi thread dan multi core. Jika satu core bisa memiliki 4 hardware threading, dan 1 chip ada 8 core, maka prosesor bisa memiliki 32 thread. Multi threading disini tentu beda dengan istilah multi thread software. Kalau mau lihat selengkapnya silakan buka opensparc.net.

Btw, kemarin terjadi sedikit perbincangan antar teman, “Terus apa sih untung yang mereka dapatkan dengan cara meng-open-source-kan prosesor mereka?”. Yup, itulah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada kalangan pecinta opensource. Saya sendiri meyakini bahwa tidak ada satupun yang gratis-tis. Sesuatu harus ada interest-nya, apalagi jika produk itu keluar dari dunia Barat. Bahkan yayasan sosial pun harus punya interest, tidak seperti Indonesia yang lebih agamis, mengeluarkan zakat tanpa ada interest duniawi. Loh, malah jadi ngomong kemana-mana.

Back to topic. Nah, lalu apa interest yang mereka dapatkan dari meng-open-source-kan produk mereka? Mungkin ada beberapa hal, dan ini berlaku bagi semua jenis opensource baik hardware maupun software.

Pertama, mereka ingin membuat produk atau platform atau apapun, tapi tidak ingin mengeluarkan cost untuk validasi dan verifikasi ataupun tidak yakin akan desainnya sendiri sehingga di-open dengan harapan semua orang mencobanya dan memberikan feedback berupa bug report kepadanya.

Kedua, bukan code yang mereka jual, tetapi support. Banyak kasus dimana ketika mengimplementasikan produk yang open-source akhirnya mentok di tengah jalan karena buggy. Akhirnya terpaksa meminta support dari open-source provider. Kasus ini pernah terjadi dan saya lihat sendiri.

Ketiga, jualan buku dan manual. Mereka men-open-source-kan produk, tapi manual, cara memakai, cara mendebug, cara memodifikasi dan menambahkan fitur atau aplikasi, disembunyikan dan hanya bisa diperoleh dengan cara membeli.

Keempat, ingin mencari ketenaran. Dengan meng-open-source-kan produknya, dia bisa memperlihatkan kemampuan kepada community, apalagi jika produknya banyak digunakan. Dengan begitu dia dapat track-record lalu akan lebih mudah mendapatkan investasi, atau bisa jadi produknya akan dibeli perusahaan besar.

Dan lain-lain, tentu motif setiap orang berbeda-beda. Tapi bagaimanapun juga, selama terjadi lingkaran mutualisme, saling memberikan keuntungan saya pikir tidak masalah. Dan saya pribadi sih cenderung mendunkung open-source. Beda dengan komunitas Windows yang anti open-source. Alasan mereka sih tanggung jawab nya tidak jelas. Yah selalu ada perdebatan antara keduanya. Yup, open-source akan selalu menjadi sesuatu yang menarik dan fenomena ini kian hari kian ramai saja. Anda sendiri tentu punya pendapat tentang open-source ini.

Oiya, saya sedikit ngobrol dengan David Weaver ini. Yah, pertanyaan saya sederhana saja, seberapa matang RTL code (verilog) yang dia open-kan itu, apakah siap untuk ASIC implementation? Dia hanya bisa jawab, mereka sudah proven sampai ASIC implementation. Sedangkan untuk implementasi di FPGA sudah ada Evaliation Kit package nya dari Xilinx. Jadi seharusnya RTL codenya sudah matang. Tapi apakah RTL code yang matang itu open? Dari pengalaman, RTL code yang bisa diimplemtasikan di FPGA belum tentu OK untuk di implementasikan di ASIC, karena verification flow di ASIC lebih ketat. Ya who knows, mari kita lihat apakah OpenSparc sematang itu atau tidak.

Lalu, kata David, ternyata mereka ada kerjasama dengan Gaisler juga, salah satu open-source processor yang memakai arsitektus sparc. Dia bilang, untuk 32-bit system mereka menyarankan memakai prosesor LEON dari Gaisler, tapi Gaisler hanya punya 1 core 1 thread processor dan 32-bit. Tapi OpenSparc tidak punya AMBA bus, dan bus itu mereka peroleh dari Gaisler. Hohoho, interesting. Semoga program OpenSparc-nya sukses Sir, for mutual interest ;).

ps. gambar dicomot dari padepokan pak Budi

Kemarin (8/6) ada OpenSparc Training di Campus Center ITB. Tempat yang sudah lama sekali nggak saya kunjungi semenjak lulus. Kebanyakan yang hadir adalah mahasiswa STEI, walaupun ada banyak yang dari luar akademia, seperti dari VS (;D). Beberapa dosen juga hadir. Training ini diorganisasi oleh Lab IC design ITB, tampat Pak Trio, dan disponsori juga oleh Versatile Silicon Tech.
Penyaji materi pertama adalah David Weaver, chief OpenSparc dari Sun Microsystem. Sebenarnya kalau disebut training kurang tapat, karena pikiran saya kalau training akan ada handout dan praktek langsung. Tapi ternyata kemarin jadi seperti seminar biasa. But it’s ok, masih banyak hal yang bisa diperoleh adri seminar itu. David banyak cerita mengenai sejarah OpenSparc, lalu arsitektur OpenSparc dan kelebihannya. Materi terakhir adalah video yang membahas OpenSparc simulator dan verification tools.

Kelebihan OpenSparc ini adalah, kata David, selain karena prosesor 64-bit pertama yang di-open-source-kan, juga karena kemampuannya untuk hardware multi-threading dan multi core. Jadi kombinasi antara multi thread dan multi core. Jika satu core bisa memiliki 4 hardware threading, dan 1 chip ada 8 core, maka prosesor bisa memiliki 32 thread. Multi threading disini tentu beda dengan istilah multi thread software. Kalau mau lihat selengkapnya silakan buka opensparc.net.

Btw, kemarin terjadi sedikit perbincangan antar teman, “Terus apa sih untung yang mereka dapatkan dengan cara meng-open-source-kan prosesor mereka?”. Yup, itulah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada kalangan pecinta opensource. Saya sendiri meyakini bahwa tidak ada satupun yang gratis-tis. Sesuatu harus ada interest-nya, apalagi jika produk itu keluar dari dunia Barat. Bahkan yayasan sosial pun harus punya interest, tidak seperti Indonesia yang lebih agamis, mengeluarkan zakat tanpa ada interest duniawi. Loh, malah jadi ngomong kemana-mana.

Back to topic. Nah, lalu apa interest yang mereka dapatkan dari meng-open-source-kan produk mereka? Mungkin ada beberapa hal, dan ini berlaku bagi semua jenis opensource baik hardware maupun software.

Pertama, mereka ingin membuat produk atau platform atau apapun, tapi tidak ingin mengeluarkan cost untuk validasi dan verifikasi ataupun tidak yakin akan desainnya sendiri sehingga di-open dengan harapan semua orang mencobanya dan memberikan feedback berupa bug report kepadanya.

Kedua, bukan code yang mereka jual, tetapi support. Banyak kasus dimana ketika mengimplementasikan produk yang open-source akhirnya mentok di tengah jalan karena buggy. Akhirnya terpaksa meminta support dari open-source provider. Kasus ini pernah terjadi dan saya lihat sendiri.

Ketiga, jualan buku dan manual. Mereka men-open-source-kan produk, tapi manual, cara memakai, cara mendebug, cara memodifikasi dan menambahkan fitur atau aplikasi, disembunyikan dan hanya bisa diperoleh dengan cara membeli.

Keempat, ingin mencari ketenaran. Dengan meng-open-source-kan produknya, dia bisa memperlihatkan kemampuan kepada community, apalagi jika produknya banyak digunakan. Dengan begitu dia dapat track-record lalu akan lebih mudah mendapatkan investasi, atau bisa jadi produknya akan dibeli perusahaan besar.

Dan lain-lain, tentu motif setiap orang berbeda-beda. Tapi bagaimanapun juga, selama terjadi lingkaran mutualisme, saling memberikan keuntungan saya pikir tidak masalah. Dan saya pribadi sih cenderung mendunkung open-source. Beda dengan komunitas Windows yang anti open-source. Alasan mereka sih tanggung jawab nya tidak jelas. Yah selalu ada perdebatan antara keduanya. Yup, open-source akan selalu menjadi sesuatu yang menarik dan fenomena ini kian hari kian ramai saja. Anda sendiri tentu punya pendapat tentang open-source ini.

Oiya, saya sedikit ngobrol dengan David Weaver ini. Yah, pertanyaan saya sederhana saja, seberapa matang RTL code (verilog) yang dia open-kan itu, apakah siap untuk ASIC implementation? Dia hanya bisa jawab, mereka sudah proven sampai ASIC implementation. Sedangkan untuk implementasi di FPGA sudah ada Evaliation Kit package nya dari Xilinx. Jadi seharusnya RTL codenya sudah matang. Tapi apakah RTL code yang matang itu open? Dari pengalaman, RTL code yang bisa diimplemtasikan di FPGA belum tentu OK untuk di implementasikan di ASIC, karena verification flow di ASIC lebih ketat. Ya who knows, mari kita lihat apakah OpenSparc sematang itu atau tidak.

Lalu, kata David, ternyata mereka ada kerjasama dengan Gaisler juga, salah satu open-source processor yang memakai arsitektus sparc. Dia bilang, untuk 32-bit system mereka menyarankan memakai prosesor LEON dari Gaisler, tapi Gaisler hanya punya 1 core 1 thread processor dan 32-bit. Tapi OpenSparc tidak punya AMBA bus, dan bus itu mereka peroleh dari Gaisler. Hohoho, interesting. Semoga program OpenSparc-nya sukses Sir, for mutual interest ;).

ps. gambar dicomot dari padepokan pak Budi

Reprinted from http://www.bottomlinesecrets.com/article.html?article_id=16132

Lightening your physical load by throwing garage sales, giving away your old clothes and moving to a smaller house won’t automatically give you peace of mind.

To achieve calmness you need to break free of the mind-cluttering habits, worries and distractions that tie you in knots. Your life will be simpler only if you work on freeing your mind. Here are some practical steps you can take now…

ESSENTIALS OF SIMPLIFYING

  • Give yourself periods of “no phone calls” time. The telephone is one of the most regularly stressful distractions of life. It can be helpful to set aside a certain time of the day when you turn off the ringer or don’t answer the phone at all except in the midst of real emergencies.Get an answering machine to take your calls so you can return them later.
  • Make a list of personal priorities. Write them down on a sheet of paper and put the list away for a week or two. After some time has gone by, take out the list and reread it.Ask yourself how you have spent your time and whether your actions were consistent with your list. If so, congratulations! If not, begin taking steps to line up your behavior with your priorities.

    Learn to love voice mail. It can be a huge time-saver and an excellent way to pass along information without
    being interrupted.

    Example:
    Return telephone calls in the evening if you can answer specific questions on voice mail. This takes only a minute or two versus engaging in a 10- to 15-minute conversation.

  • Learn to say no without guilt. The problem with always saying yes is twofold. It makes you feel overwhelmed, stressed and tired. And you end up doing things you don’t want to or shouldn’t be doing — all the while acting, on the surface, as if everything is just fine.

    Helpful:
    When the request is made, ask yourself, “All things considered, is it in my best interest to say yes, or is it okay to refuse?” Put in this perspective, there are probably many instances when it’s perfectly fine to say no.
  • Give yourself an extra 10 minutes. Instead of always rushing, start out 10 minutes early instead of waiting until the last possible moment. You will find yourself with plenty of time to spare and less stressed out in the process.
  • Create a “selfish” ritual. When you have what you need in an emotional sense, you have plenty left over for others. Rituals can be as simple as squeezing exercise into your daily routine, browsing bookstores or having a quiet cup of coffee before work. The point is, it’s your time — a special part of the day reserved just for you.
  • Let yourself off the hook. We often try to do everything. We work hard, stay organized, try our best to be good parents, spouses, friends and concerned citizens. Sometimes it’s too much.
    Remind yourself that it’s impossible to be all things to all people all the time.

    Example:
    If you forget an appointment, don’t berate yourself for being stupid. Instead, view the mistake as a signal that you probably have too much on your plate.
  • Speak softly. When you speak too quickly and with a loud voice, the energy you send out into the world is frantic and nervous. People around you will feel pressured and slightly agitated. Speak more softly and you may discover that you begin to feel calmer and less stressed. Next, you’ll discover that everyone around you will quickly start to quiet down, too.
  • Embrace change. Truth is, everything is in a constant state of change — our bodies, homes, children. We can fight and resist change or surrender and embrace it.The problem with resistance is it’s a losing battle — 100% of the time. When we try to resist the inevitable, we cause ourselves great pain and sorrow and miss out on a great deal of potential joy.

    When we embrace change, we open the door to a far more peaceful existence. Then life becomes more of an adventure and each step seems more special and important.

  • Eliminate the “rat race” mentality. One of the problems of thinking about and discussing your job/life as being stuck in the rat race is that it sets you up to be frightened, impatient and annoyed. Decide to stop talking about your situation that way. Instead, recharacterize it in healthful ways.

    Example:
    Instead of saying, “I spent my day in boring meetings listening to arguments and dealing with constant conflict,” try “The art of my work is bringing people together who, on the surface, don’t seem to get along very well. It’s a good thing I’m there to help.” Can you feel the difference?
  • Don’t dramatize deadlines. A lot of deadline stress comes not from the deadlines themselves, but instead from the energy wasted thinking about them, wondering whether we’ll meet them, feeling sorry for ourselves and, perhaps most of all, commiserating with others about them.Working toward your goal without the interference of negative mental energy makes any job more manageable.
  • Create a bridge between your spirituality and your life’s work. This means taking the essence of who you are and what you believe into your work space. If kindness, patience, honesty and generosity are spiritual qualities that you believe in, make every effort to practice them at work.

    Example:
    If it’s your job to reprimand someone, do so from a place of love and respect. Creating this spiritual bridge will remind you of a higher purpose and put your problems and concerns into a broader context.
  • Take breaks. Failure to take regular breaks not only wears you down, but also makes you less productive. While you may not feel it at the time, slowly but surely, frustration will sneak up on you. You’ll become less patient and less attentive.Over time, you’ll burn out more quickly and your creativity and insights will slowly fade away. Breaks don’t have to be disruptive or last very long. Usually all we need is a few minutes every hour or so to clear our heads, stretch our arms — and get some air.

    It’s like pressing the reset button and providing ourselves with a fresh start.