Hari gini masih kayak gini?? Apa kata dunia??
Mau daftar untuk bayar aja kok susah…

Hari gini masih kayak gini?? Apa kata dunia??
Mau daftar untuk bayar aja kok susah…

Aku akan belajar dari kesedihan
Belajar menghalau fatamorgananya
Karena hidup adalah laga
Mengumpulkan puzzle demi puzzle perbekalan
Walau takkan mampu yakinkan senyum diakhir kehidupan
Biarlah aku belajar
Menyederhanakan kata terlihat mudah
Tapi susahnya minta ampun
Memperumit kata justru malah lebih mudah
Buktinya lihat saja tulisan-tulisan yang kau baca
Banyak yang memperumit kata agar disebut pujangga
Mempersulit kalimat agar disebut sastrawan
Padahal coba tanyakan pada Chairil Anwar
Tanyakan pada mereka yang kau sebut sebagai sastrawan
“Apakah goresan tinta mereka melahirkan kata-kata yang rumit?”
Aku bingung dengan dunia puisi,
Aku mencari ilmu tapi banyak “sastrawan” menggiringku kedalam kegelapan dunia
Tajamnya pena bukan berarti membuat orang susah mengerti
Goresan pena bukankah untuk menambah kebingungan
Bukankah seorang sastrawan itu berkata lewat tulisan?
Lantas mengapa tulisannya susah dicerna?
Menurutku sastrawan adalah orang yang menyederhanakan kata-katanya
Pujangga adalah orang yang membumikan kalimat yang melangit
Kalimat-kalimat yang sering mampir ke telinga kita, mungkin paling sering kata-kata itu diucapkanoleh guru-guru kita. Dan jawabanya beragam, ada “sudah”, “belum”, “tidak”, bahkan ada jawaban sakti yaitu diam. Teringat kata-kata teman, “kita ini akan memahami sesuatu kalo kita sudah menjalaninya, itu guru terbaik, kita akan tahu mengapa orang menyuruh, melarang, menganjurkan sesuatu”
Dulu saat mendengar kalimat itu kok rasanya hanya kalimat klise semata, ya bisa diterima akal tapi kok sepertinya belum bisa dimasukkan ke qalbu ya..
Tapi ternyata kita ini (sebagai manusia) sepertinya memang harus mendapatkan pengalaman langsung untuk dapat memahami sesuatu.
Misalnya, dulu sewaktu kecil, ibu kita sering mealrang kita melakukan sesuatu….. kita berpikir, ini itu kok dilarang, terus apa-apa yang asyik ngga boleh……., ternyata kita baru bisa paham nasihat itu setelah kita punya anak (ini asli kata-kata teman yang sudah punya anak)
Terus memahami arti pentingnya sesuatu, sering kita baru paham saat sesuatu itu hilang atau sudah meninggalkan kita, saat sesuatu itu ada bersama kita kok rasanya ngga terlalu diperhatikan, bahkan ada rasa ngga butuh-butuh amat, tapi kalau sudah hilang baru terasa pentingnya.
Jangan menjadi bangsa yang meletakkan kekecewaaan di akhir masa, belajar dari pengalaman, belajar dari menghargai sesuatu.
atau
“Membenarkan yang Biasa”
Korelasi kebenaran dan kebiasaan inilah korealsi rancu yang biasa digunakan untuk membentuk dan membuat sejarah alias history (his-story). Hal-hal salah yang biasa dilakukan dalam masyarakat semakin lama akan memiliki rasa atau nilai hingga dulu hal yang dianggap salah tapi karena dilakukan terus menerus maka nilainya akan berubah sedikit demi sedikit hingga sampai pada titik kebiasaan itulah yang benar, atau lebih tepat disebut sebagai pembenaran.
Kita sering salah kaprah dalam bertindak, kita lakukan hal yang dianggap biasa padahal itu salah tapi karena biasa maka dianggap benar… tapi kita tinggalkan hal yang benar hanya karena tidak lazim dilakukan masyarakat.<
Mungkin zaman ini adalah orde ” Membenarkan yang biasa”
dan meninggalkan “Membiasakan yang benar
Semoga kita bisa kembali pada hal yang benar tanpa pembenaran… karena pembenaran bukan berarti benar.
Benar dalam beraqidah, benar dalam berakhlaq, benar dalam beribadah…….benar dalam bermuamalah, benar dalam segala segi kehidupan dan penyokong kehidupan kita.
Maka sekarang bola berada ditangan kita, apakah kita akan bergabung dalam jama’ah ” Membenarkan yang biasa” dengan terus menerus menyuntikkan paradigma pembenaran atau kita tetap bertahan dan berpendirian teguh dalam jama’ah “Membiasakan yang benar”…walau perjuangan dalam hal ini sangat berat tapi perniagaan dalam hal ini sangat menguntungkan.
Tapi perlu kita ingat dalam memilihnya supaya kita tidak kecewa pada akhir masa.
Kecewa, satu kata yang sangat lekat dengan peradaban manusia, sejak awal mas hingga akhir masa dibumi bahkan sampai di masa pertimbangan amal dan diperlihatkan apa yang akan kita dapatkan diakhirat, kecewa yang maha dasyat karena kecewa telah menyianyiakan kesempatan hidup, kesempatan untuk menjalankan amal baik.
Kalau kita ingat bahwa hidup di dunia ini sebentar, (ingat pepatah jawa “urip neng ndonya ki mung mampir ngombe- hidup di dunia ini hanya mampir minum) maka kita pasti akan bersungguh-sungguh menyiapkan perbakalan kita untuk akhirat, dan kita tidak akan mengadaikan kesenangan akhirat yang kekal dengan kesenangan semu di dunia.
Masa adalah pilihan, masa lalu adalah hal yang terjauh yang tercipta, melepas belenggu dan menguntai kasih hingga kesadaran itu tidak datang terlambat, karena kita adalah makhluk yang terbiasa meletakkan kekecewaan di akhir masa.
Ya, mengapa kekecewaan itu selalu diakhir, bisakah kita ubah letaknya di depan, hingga kita yang pro happy ending bisa menikmati skenario hidup ini……..
Pasti bisa..
ya bisa…
Mari ubah paradigma kita….kita ubah kekecewaan itu menjadi di depan, lantas bagaimana?
Dalam melangkah dan bertindak maka pertimbangkan bahwa ada reaksi dari aksi kita, jangan serampangan, bagaimana reaksi itu akan muncul tergantung dengan aksi kita. Mempertimbangkan bukan berarti kita melangkah dengan lambat, dengan lelet… tapi mempertimbangkan berarti kita tetap bisa melangkah dengan gesit, dengan sigap…..
Kalau orang jawa bilang “alon-alon waton kelakon” maka bagaimana kalau “dengan persiapan mantap, proses mantap, maka terlaksana dengan mantap” hehehe….
ingat “everything is possible, nothing imposible
kalau kita telah mempertimbankan reaksi maka kita bisa menimbang bagaimana kita apakah akan kecewa atau tidak, kalau kecewa seberapa besar tingkat kekecewaan kita, kalau sukses juga seberapa besar tingkatnya……….
Lantas ada lagi, bagaimana kalau kita sudah mempersiapkan dengan baik, proses juga sudah sempurna, tapi kok hasilnya tetap kecewa ya…. apa kesalahan saya….
jawabnya adalah anda tidak melakukan kesalahan, proses yang sudah dilalui bagaimanapun hasilnya akan berguna dan bermanfaat bagi kita, apapun hasilnya, karena skenario ALLAH lebih sempurna dari sekenario manapun dan oleh siapapun, karena ALLAH adalah sebaik-baik pembuat rencana….
ingat posting sebelumnya
Jika Allah memang belum mengabulkan apa yang kita harapkan, hiburlah diri dengan prasangka tinggi bahwa semakin Allah menunda insya Allah semakin baik kualitas yang akan Allah berikan suatu saat nanti karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya.
“Tidaklah rasa lelah, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan dan duka yang menimpa seorang muslim sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah menghapuskan dosanya karena hal-hal tesebut.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Berangkat kerja dengan bekal niatan nanti setelah jam kerja usai mau langsung ke stasiun senen, langsung pulang ke jogja bertemu dengan kekasih…..SEMANGAT NIH…
di kantor disapa ala jum’at.. “kalo hari jum’at ni pasti anggota PJKA wajahnya berseri2 ya…”,
kalo mas kukuh beda lagi “seneng aku nek dino jum’at, joko dadi sumringah”
mencoba tersenyum dengan sapaan khas itu… maklum long distance love .. jadi setelah menikah resmi menjadi anggota PJKA alias Pulang Jum’at Kembali Ahad…..Pulang ke jogja hari Jum’at Kembali ke jakarta hari Ahad
kerja sudah semangat, semua dikebut diselesaikan agar tidak ada yang tertinggal hingga hari senin depan bisa lebih teratur,
ternyata…..
ada pembahasan sampai malam,
malah hingga jam 8 pembahasannya belum dimulai…
hehehe…….. ngga jadi ketemu deh…
selalu ada hikmah, karena rindu itu akan lebih bertambah, terpupuk, diikhlaskan ya…
kalau dipikir2 masih beruntung aku ini, ada orang lain yang sama2 long distance love yang mau ketemu istrinya dua pekan sekali saja masih sulit… seperti yang dialami temanku yang mendapat beasiswa ke luar negeri….
ternyata masih beruntung ya aku…
malam ini ngga pulang, insyaALLAH akhir pekan depan bisa pulang……amin
hari ini biasa di kantor pesan lewat ip messenger supaya menghemat teriak2 dan suasana lebih kondusif, ada pesan masuk dari teman
“Mengingat kehidupan kampus…. pasti ingat sosok yang satu ini…
disertai alamat blog seseorang……
kampus ya…. sudah 1.5 tahunan ngga berkunjung lagi kesana…. ada keinginan untuk kembali kesana, menimba ilmu lagi.
iseng, ini asli iseng karena aku juga ngga mengenal nama yang tercantum dalam alamat blog itu,
pertama buka belum ngeh, asli ngga kenal…..
eits dari profil di kanan atas ad fotonya….
Subhanallah…. ternyata orang yang lama tidak ku jumpai, kerinduan ini membuncah, sosok itu adalah guru sejatiku, guru yang mengajariku arti kesederhanaan yang diaplikasikan langsung dari kehidupannya
entah mengapa seperti teringat perjuangan di kampus bersamanya, nasihatnya, untaian kalimatnya yang menenangkan gelora emosi, kesederhanaannya.
Sebelum mengenalnya, pertama kali bertemu di fatahillah sapanya langsung menarik hatiku.
Perjuangan yang selalu kurindukan……
dan aku ingin mencintainya (perjuangan) dengan sederhana.
bukan karena cantiknya wajah, aku memilihnya
bukan karena cantiknya nasab, aku meminangnya
bukan pula karena cantiknya harta, aku menyebut namanya saat qabul
tapi
karena perjuangannya memperbaiki akhlaq
karena akhlaqnya mampu membuat bundaku mengatakan bunda mencintainya
berharap pula dia mencintaiku karena memperbaiki akhlaq, walau sehitam debu
—————————————————————————————-
dik, mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan mas, ayo berjuang
—antara jakarta dan jogjakarta—
—————————————————————————————-