Archive for June, 2008

Personality Test

It’s kinda fun to have a personality test. Like the a href=”http://nozzy.blogspot.com/2007/12/old-time-personality-quiz.html”old time/a “Sesame Street” a href=”http://www.blogthings.com/thesesamestreetpersonalityquiz/”personality quiz/a, I am the Big Bird:br /blockquote style=”color: rgb(51, 204, 0);”Talented, smart, and friendly… you’re also one of the sanest people around.br /You are usually feeling: Happy.br /From riding a unicycle to writing poetry, you have plenty of hobbies to keep you busy.br /You are famous for: Being a friend to everyone.br /Even the grumpiest person gets along with you.br /How you life your life: Joyfully. “Super. Duper. Flooper.”/blockquoteHaha, well, maybe a href=”http://www.mypersonality.info/”this one/a described me better:span style=”color: rgb(0, 0, 0);”br /br /a href=”http://yansyafri.mypersonality.info/” target=”_top”img src=”http://badges.mypersonality.info/badge/0/8/82165.png” src=”http://badges.mypersonality.info/badge/0/8/82165.png” alt=”Click to view my Personality Profile page” border=”0″ //abr /br //span

Manusia “l”, memiliki pengetahuan yang mendalam, menghujam, sampai mendarah daging. Orang Eropa basanya memiliki tipe ini. Mereka bisa bekerja di satu bidang melulu sampai bertahun-tahun. Sampai bener-bener “nglotok”. Beberapa perusahaan Eropa menerapkan sistem ini. Ada seorang yang profesional/ahli di suatu bidang tertentu, yang kalau orang bertanya kepada dia hampir tidak pernah tidak dijawabnya, dan jawabannya hampir selalu benar.br /br /Ingat, tipe ini lingkup pengetahuannya hanya satu bidang saja. Ambil contoh, di sebuah perusahaan mobil Eropa, ada orang yang ahli hanya bagian depan mobil sebelah bawah yang dideket ban, dan hanya bagian per nya saja. Dan sampai umur 40 th pun dia selalu berkutat disitu :D. Huruf “l” melambangkan kedalaman ilmunya, tapi pada lingkup yang sangat sempit.br /br /Manusia “-”. Kalau yang ini biasanya span style=”font-style: italic;”omdo /span(alias omong doang). Memiliki pengetahuan luas tetapi hanya kulit-kulitnya saja. Mengenai realitasnya? tidak punya pengalaman sama sekali. Tidak punya span style=”font-style: italic;”know how/span. Orang bilang “Ah, teori!”. Orang Indonesia banyak yang bertipe ini :D.br /br /Ambil contoh, seorang pengamat teknologi informasi. Berbicara mengenai perbandingan suatu produk teknologi, katakanlah, 3G dibanding WiMAX atau LTE dibanding WiMAX. Padahal secara detail dia tidak tahu sama sekali. Hanya tahu kulit-kulitnya saja. Huruf “-” melambangkan kedangkalan ilmunya, tapi pada lingkup yang luas.br /br /Manusia “T”, selain dalam ilmunya, pengetahuan-pengetahuan diluar bidangnya juga tahu walaupun hanya kulit-kulitnya. Ketika ditanya mengenai bidang yang dia tekuni, bisa menjawab dengan profesional, dan jawabannya hampir selalu benar. Akan tetapi kalau berbicara dengan orang lain yang berbeda bidang masih bisa nyambung.br /br /Ambil contoh, seorang group leader. Tentu dia harus expert pada bidang yang dia garap bersama anggota groupnya. Akan tetapi tentu dia akan berhubungan dengan group lainnya, dia tidak gap tek alias tetap bisa “nyambung”. Huruf “T” melambangkan kedalaman ilmu pada bidang yang dia kuasai, tapi pada lingkup yang terbatas, sedangkan bidang lain dia ketahui kulitnya, tapi pada lingkup yang luas.br /br /Tentu tidak ada orang superior yang menguasai dan ahli (bener2 ahli) dalam semua bidang. Einstein pun tidak tahu bagaimana cara memasak gudeg bukan? Atau nasi timbel aja lah (halah, ga penting). Tinggal pilih, kita mau jadi tipe “l”, “-”, atau “T”. Saat ini tipe “T” adalah pilihan yang terbaik untuk orang Indonesia. Di saat kondisi negara masih berkembang dan belum terbentuk sistem yang baik. Disaat orang mulai membentuk sistem-sistem itu. span style=”font-style: italic;”So? Let’s get the party begin/span.

Allah Knows

Great Nasyid by a href=”http://www.zainbhikha.com/lyrics/ak_Allah_Knows.html”Zain Bikha/a, here it is.br /br /object width=”425″ height=”344″param name=”movie” value=”http://www.youtube.com/v/BLbtzYfrFwEamp;hl=en”/paramembed src=”http://www.youtube.com/v/BLbtzYfrFwEamp;hl=en” type=”application/x-shockwave-flash” width=”425″ height=”344″/embed/objectbr /br /spanWhen you feel all alone in this worldbr /And there’s nobody to count your tearsbr /Just remember, no matter where you arebr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /br /When you carrying a monster loadbr /And you wonder how far you can gobr /With every step on that road that you takebr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /br /No matter what, inside or outbr /There’s one thing of which there’s no doubtbr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /And whatever lies in the heavens and the earthbr /Every star in this whole universebr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /br /When you find that special someonebr /Feel your whole life has barely begunbr /You can walk on the moon, shout it to everyonebr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /br /When you gaze with love in your eyesbr /Catch a glimpse of paradisebr /And you see your child take the first breath of lifebr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /br /When you lose someone close to your heartbr /See your whole world fall apartbr /And you try to go on but it seems so hardbr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /br /You see we all have a path to choosebr /Through the valleys and hills we gobr /With the ups and the downs, never fret never frownbr /Allah knowsbr /Allah knowsbr /br /Every grain of sand,br /In every desert land, He knows.br /Every shade of palm,br /Every closed hand, He knows.br /Every sparkling tear,br /On every eyelash, He knows.br /Every thought I have,br /And every word I share, He knows.br //span

Tak Sekedar Slogan by Ineu

Ineu, salah satu penulis favorit saya di rubrik a href=”http://eramuslim.com/atk/oim”Oase Iman/a nya Eramuslim. Cara bertuturnya yang polos tapi menyentuh seakan benar-benar ditulis dengan hati. Memang tulisannya tidak jauh dari pengalaman pribadinya sehari-hari. Justru itulah yang membuat tulisannya menarik untuk disimak. Melihat hal-hal kecil yang tidak pernah terpikir oleh kita, lalu mengemasnya menjadi cerita hikmah. Seperti tulisan terbarunya yang saya comot langsung dari a href=”http://eramuslim.com/atk/oim/8620122252-tak-sekedar-slogan.htm”sini/a (dengan sedikit diedit).br /br /span style=”color: rgb(255, 153, 0);”/spanspan style=”font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);”Tak Sekedar Slogan /spanbr /22 Jun 08 06:13 WIBbr /br /Hari Minggu kali ini suasana masjid tampak lain, tak seramai biasanya. Hanya ada sedikit anak-anak yang hendak belajar baca Quran. Padahal biasanya sejak jam 12 siang di ruang dekat mihrab masjid telah berkumpul anak-anak remaja putra dan putri, khusyu mendengarkan penjelasan tentang Islam dalam bahasa Jerman dari pembimbing mereka, salah satu dari tiga orang dewasa berkebangsaan Jerman dan Arab yang silih berganti membimbing mereka mengenal Islam.br /br /Kemudian di ruang shalat perempuan, ada dua atau tiga kelompok anak-anak dipandu guru-gurunya membaca Al-Quran dan di ruang belakang anak-anak yang lebih kecil berkelompok pula membaca iqra. Tak jauh dari tempat tersebut dalam ruang lebih kecil sekelompok ibu yang mengantar dan menunggu anak-anaknya, dengan penuh semangat belajar memperbaiki bacaan al-Quran mereka.br /br /Saat membaca deretan kalimat pada selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman, baru saya sadari kalau hari itu ada acara penggalangan dana yang diprakarsai saudara-saudara dari masjid lain, tempat berkumpulnya muslim-muslimah dari Arab, Turki dan Jerman. Mereka hendak menggelar acara bazaar makanan dan minuman, olahraga untuk orang dewasa dan melukis serta menggambar buat anak-anak. Oleh karena itu para pengajar remaja meliburkan binaannya karena mereka ikut berperan dalam acara tersebut.br /br /Menurut sahabat saya, kehadiran muslim-muslimah Indonesia ke tempat acara itu sangat mereka harapkan. Sehingga usai membimbing anak-anak dan para orangtua, kami berniat memenuhi undangan tersebut. Mengetahui niat kami, sekelompok muda-mudi Jerman yang sedang di masjid saat itu tak mau ketinggalan ingin meramaikan acara. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Humboldt yang beberapa minggu ini selalu datang ke masjid untuk meneliti budaya dan kultur Indonesia. Akhirnya berombongan kami menuju tempat yang beberapa waktu lalu menjadi ajang penggalangan dana masjid Indonesia.br /br /Begitu sampai di tempat, saya lihat di pojok taman sebelah kiri para lelaki berwajah Arab dan Jerman sedang asyik bermain bola voli, sebagian lagi sibuk mengipas-ngipas sate, ada juga yang membantu para muslimah berkeliling menjajakan buah mangga. Di beberapa sudut lain tampak para muslimah dalam balutan jilbab dan busana yang syar’i, duduk-duduk di atas tikar bercengkerama dengan sesama. Ada juga wajah-wajah yang sudah tak asing, sekelompok mahasiswa Humboldt itu, rupanya mereka sudah sampai duluan. Mereka tampak betah menikmati suasana, asyik mengobrol sambil menikmati makanan. Kami pun segera menghampiri sebuah stand sate yang bumbunya ternyata dibuatkan oleh sahabat saya.br /br /Ketika hendak mengantri, sebuah tepukan lembut di bahu mengagetkan saya dan reflek saya menoleh ke sebuah arah. Seraut wajah Jerman berbalut jilbab tersenyum melihat reaksi saya lalu ia mengucapkan salam dan segera saya balas dengan hal yang serupa. Kami pun berangkulan seolah sahabat yang sudah lama tak bertemu, padahal itu adalah pertama kalinya kami berjumpa. Lalu kami berkenalan saling menyebutkan nama, alamat rumah juga masjid tempat masing-masing beraktivitas. Tak lama ia memanggil teman-temannya sesama muslimah Jerman dan kembali saya dipeluk sedemikian rupa.br /br /Ketika hendak mengantri, sebuah tepukan lembut di bahu mengagetkan saya dan reflek saya menoleh ke sebuah arah. Seraut wajah Jerman berbalut jilbab tersenyum melihat reaksi saya lalu ia mengucapkan salam dan segera saya balas dengan hal yang serupa. Kami pun berangkulan seolah sahabat yang sudah lama tak bertemu, padahal itu adalah pertama kalinya kami berjumpa. Lalu kami berkenalan saling menyebutkan nama, alamat rumah juga masjid tempat masing-masing beraktivitas. Tak lama ia memanggil teman-temannya sesama muslimah Jerman dan kembali saya dipeluk sedemikian rupa.br /br /Subhanallah, demikian indahnya ternyata nilai sebuah ukhuwah! Sekalipun bahasa Jerman saya masih sangat terbatas, bahkan sering gelagapan saat mereka bicara terlalu cepat untuk bisa saya tangkap maksudnya, tak menjadi penghalang untuk kami menjadi dekat. Mereka tak sungkan-sungkan menyapa dengan istilah schwester sebuah sapaan bagi saudara perempuan atau Bruder untuk saudara laki-laki. Hangatnya sikap persaudaraan yang mereka tebarkan seolah mampu menepis cuaca saat itu yang lebih dingin dari biasanya.br /br /Sayangnya suasana siang itu tak bisa kami nikmati lebih lama. Mendung yang begitu tebal mamaksa kami segera berkemas. Saat bis yang kami tunggu datang, rintik hujan mulai turun dan bertambah deras. Ada perasaan sesal dan sedih menggantung di hati saat bis melaju di antara guyuran hujan lebat. Mengapa kami bergegas pulang meninggalkan mereka yang masih sibuk membenahi barang-barang serta dagangannya? Sebuah tanya diri tak mampu dan malu saya jawab. Wajah-wajah ramah bersahabat itu melintas kembali di pelupuk mata. Saya bayangkan bagaimana sibuknya mereka menyelamatkan semua barang dari terpaan air hujan. Pastinya sebuah pemandangan yang mengharukan. Sayang sekali saya tak bersama mereka merasakan suasana itu.br /br /Maafkan kami saudara-saudaraku. Ruh persaudaraan yang kalian tebar begitu hangat saat menyambut kami belumlah terbalas dengan baik. Kami mesti belajar lebih dalam lagi menyelami makna persaudaraan, agar berat sama dipikul ringan sama dijinjing tak sekedar sebuah slogan.***

Masyarakat Jepang memang unik. Ciri sosio-culture-nya hampir tidak bisa ditemui di negara-negara lainnya. Komuro Noaki, seorang ilmuwan politik pernah mengeluarkan pernyataan ini dalam diskusi di salah satu stasiun TV nasional (1):br /blockquote style=”color: rgb(51, 204, 0);”"Ada satu konsep sosiologi yang amat penting yang dapat diterapkan di setiap negaraspan style=”font-weight: bold;” kecuali Jepang/span. Yaitu konsep tentang agama dan norma yang didasarkan atas kontrak. Orang Amerika dan Eropa tidak menemui kesulitan untuk memahami orang Cina atau Korea, karena konsep mereka semua berasal dari masyarakat berdasarkan kontrak.”/blockquoteIni menarik. Jepang yang terkenal dengan ketaatan pada aturan ternyata tidak mendasarkan bentukan masyarakat mereka pada suatu aturan atau perjanjian. Walau begitu, tidak berarti bahwa perjanjian tidak berpengaruh penting dalam struktur sosialnya. Ungkapan span style=”color: rgb(51, 204, 0);”"Seorang Samurai tak pernah bergeser dari janjinya”/span adalah contoh yang baik.br /br /a onblur=”try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}” href=”http://bp3.blogger.com/_j-a_mAyXa2g/SF39JjxC74I/AAAAAAAAAOc/jZDJrwmjU_Q/s1600-h/130_0159.jpg”img src=”http://bp3.blogger.com/_j-a_mAyXa2g/SF39JjxC74I/AAAAAAAAAOc/jZDJrwmjU_Q/s200/130_0159.jpg” style=”cursor: pointer; width: 189px; height: 143px;” src=”http://bp3.blogger.com/_j-a_mAyXa2g/SF39JjxC74I/AAAAAAAAAOc/jZDJrwmjU_Q/s200/130_0159.jpg” alt=”" id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5214602284226506626″ border=”0″ //a a onblur=”try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}” href=”http://bp1.blogger.com/_j-a_mAyXa2g/SF3-N4Cf8WI/AAAAAAAAAOk/2KXzlBXHsU8/s1600-h/130_0161.jpg”img src=”http://bp1.blogger.com/_j-a_mAyXa2g/SF3-N4Cf8WI/AAAAAAAAAOk/2KXzlBXHsU8/s200/130_0161.jpg” style=”cursor: pointer; width: 187px; height: 143px;” src=”http://bp1.blogger.com/_j-a_mAyXa2g/SF3-N4Cf8WI/AAAAAAAAAOk/2KXzlBXHsU8/s200/130_0161.jpg” alt=”" id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5214603457899524450″ border=”0″ //abr /br /Saya tidak akan berpusing-pusing membahas sosio-culture mereka yang unik. Hanya saja, saya terkesan ketika sempat mengunjungi Fukuoka, salah satu kota di pulau Kyushu. Bahwa orang-orang seakan secara disiplin mengerjakan hal yang sama yang telah menjadi aturan bagi mereka, atau paling tidak konsensus, padahal mereka tidak dibentuk atas dasar aturan. Hal yang mereka lakukan adalah: tertib buang sampah. (penting ya? :D)br /br /Penting, karena sampah di kontrakanku udah menumpuk dan banyak dan belum dibuang, dan.. eh.. ehm, maaf. Penting karena hal yang besar dimulai dari hal yang kecil (halah). Iya, betul itu. Saya merasakan sedikit kecewa ketika pertama kali menginjakkan kaki kembali ke tanah air waktu itu. Yang jelas, perkara tidak tertib membuang sampah merupakan salah satu indikasi bahwa: 1) malas, 2) jorok, 3) berantakan, 4) tidak rapi, 5) tidak indah, 6) silakan sebut sendiri.br /br /Yuk, mari kita mulai biasakan tertib membuang sampah. Beberapa cara agar membuang sampah bisa tertib adalah: pisahkan sampah basah, sampah kering, kering, kaleng, kertas, dan plastik. Lalu rutin buang sampah, jangan biarkan sampah menumpuk. Terakhir minimalisir hal-hal yang mengakibatkan sampah, kalau perlu beli makan diluar beli saja, tidak usah dibungkus.br /br /Sebagai gambaran, kalo di Jepang, tiap jenis sampah dipisah plastiknya. Hari buang sampahnya pun diatur, hari ini buang sampah kaleng, hari ini sampah basah/dapur, dll. Dan plastik untuk buang sampah nya pun harus beli, alias bayar. Jadi kalo orang buang sampah malah bayar, kalo buang sampah sembarangan akan didenda. Kalau di kita, walau dipisah tetap saja akhirnya dicampur. Kasi tahu aja, “Mang, ini sampah udah saya pisah, jadi lebih enak kalo ada yang mau daur ulang, apa mungut”. Hehehehe ^_^.br /br /Yah, nilai-nilai sosial yang diusung warga suatu negara adalah hasil dari proses evolusi bertahap, yang tak terbilang banyaknya. Walau demikian, bukan tidak mungkin akan berubah dan berubah menjadi baik. Lihatlah a href=”http://moeflich.wordpress.com/2007/12/22/only-in-indonesia/”komentar/a salah seorang anak bangsa mengomentari bangasnya sendiri. Jadi ingat tulisan saya dulu. Bangsa bisa berubah, sudah banyak orang baiknya yang mau mendukung perubahan. Hanya belum sampai a href=”http://yansyafri.blogspot.com/2007/11/critical-mass.html”critical mass/a. So, apakah kita termasuk satu dari sekian banyak orang yang menambah critical mass itu? (ya2n)

Memandang Dunia

Dari Abdullah ra., dari Nabi saw, beliau bersabda, “Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia seperti seorang pengembara,” beliau bersabda, “di bawah lindungan pohon pada hari yang panas, kemudian ia pergi pada sore hari dan meninggalkannya.” (HR. Imam Ahmad, dalam kitab Az-Zuhd) Dalam memandang dunia, manusia berbeda-beda sikapnya. Tergantung pula kepada pemahaman dan [...]

Adalah sebuah hal yang menakjubkan sekaligus menantang ketika kita ternyata tiba-tiba menghadapi, dan berada dalam sebuah dunia baru, dunia yang sebelumnya tak pernah kita bicarakan dalam diskusi-diskusi halaqoh, tak pernah kita lihat dalam acara-acara televisi, dan tak pernah kita dengar dalam ceramah-ceramah maupun siaran di radio. Maksud saya tentang hal yang menantang adalah tentu saja [...]

Berkata Baik Atau Diam

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah [...]

Di tengah hiruk-pikuk 100 tahun kebangkitan nasional, dan kenaikan harga BBM, aku mendengar dan membaca di media massa, semuanya meneriakkan bahwa negeri ini belum sebenar-benarnya merdeka, belum sebenar-benarnya bangkit, dan negeri ini dengan sebenar-benarnya masih terjajah oleh neo kapitalisme, neo liberalisme, neo impeialisme

Bukan lagi bentuk penjajahan fisik dan teritorial sekarang, yang dilakukan oleh para penjajah [...]

“Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap keangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.” (Hasan Al-Banna)

Sejarah telah membuktikan, bahwa tonggak peubahan dan kebangkitan ada di tangan para pemuda. Hal ini berlaku untuk segala macam perubahan, termasuk di dalamnya adalah dakwah dan kebangkitan Islam. Dari [...]