Archive for November, 2007

Ada Apa dengan UGM??

Siapa sih yang tak kenal UGM?? Universitas terbesar di Indonesia yang baru-baru ini dinobatkan sebagai yang terbaik di Indonesia oleh Times Higher Educatin Supplement (THES-QS) World Top University Rangkings 2007. Bahkan dari sumber yang sama disebutkan kalo UGM berada di peringkat 360 di seluruh dunia, di atas ITB (369) dan UI (395). Sungguh suatu prestasi yang membanggakan.

Tapi tunggu dulu.. ternyata survey ini hanya didasarkan pada 4 komponen; kualitas riset (Research Quality), penerimaan dunia kerja terhadap lulusan (Graduate Employability), pandangan luar negeri (International Outlook), dan kualitas pengajaran (Teaching Quality). Seandainya ada komponen ke-5 yang disertakan, yakni administrasi & transparansi.. entah bakal terjun bebas ke urutan berapa ini Universitas. Lho kok bisa? Emangnya ada apa??

Begini ceritanya.. Selasa pekan lalu aku bersama teman-teman mengurus surat tanda lunas pembayaran SPMA, SPP, & BOP ke KPTU FT UGM..setelang ngisi blangko, aku disuruh nunggu beberapa hari untuk mendapatkan surat yang telah ditandatangani itu. Nah.. hari selasa kemarin aku dikejutkan dengan berita tidak enak dari teman-temanku.. Ternyata ada 4 orang diantara kami yang tidak mendapatkan surat tanda lunas karena disinyalir masih nunggak SPMA yang besarnya berbeda-beda.. aku dituduh belum melunasi 1,25 juta, sementara temanku yang lain ada yang 4 juta, ada juga yang 5 juta, dan yang satu lagi aku lupa dituduh nunggak berapa.

Waduh… enak aja nih UGM.. jelas-jelas kita berempat sudah melunasi SPMA di tahun pertama kuliah disini, kok bisa-bisanya dibilang masih nunggak?? Satu orang temanku ternyata masih menyimpan bukti pembayaran SPMA nya yang 5 juta itu sehingga selesailah kasus untuk dirinya.. Tapi untuk aku dan 2 orang temanku lainnya masalah ini tidak selesai begitu saja.. Temanku pun coba mengurus ke Gedung Pusat, ke Bank, dll.. tapi semua jawaban sama; Anda belum melunasi SPMA sebesar 4 juta. Dipingpong kesana kemari, akhirnya kami pun kembali ke KPTU FT UGM. Disana memang diberikan salah satu alternatif solusi; Bikin surat pernyataan dari orang tua beserta waktu pembayaran cicilan SPMA beserta besarnya.

Waduh lagi… cicilan pertama sih aku ingat pas awal registrasi dulu, cicilan kedua bulan desember 2003 pas mau Ujian Akhir Semester 1 (karena slipnya aku cari-cari masih ketemu), tapi cicilan ketiga… bulan apa aku lupa… yang jelas sebelum Ujian Akhir Semester 2 aku sudah bayar. Dan bisa dipastikan aku sudah bayar karena syarat ikut UAS saat itu adalah melampirkan bukti tanda lunas SPMA, SPP, & BOP. Kalau aku waktu itu belum lunas, bagaimana mungkin aku bisa ikut Ujian Akhir Semester 2?? Bahkan bisa bertahan di Semester 9 sampai sekarang… Benar-benar gak masuk akal!!

Sampai detik ini, segala macam upaya sedang kutempuh agar Surat Tanda Lunas itu bisa kudapatkan tanpa harus membayar ulang 1,25juta untuk UGM “tercinta” ini. Ada penyesalan besar dalam diriku, kenapa dulu begitu tsiqah sama UGM. Harusnya memang semua bukti-bukti pembayaran sejak dari awal registrasi sampai semester akhir ini, termasuk semua biaya SPMA, SPP, BOP, POTMATEK, Administrasi KKN, dll..

Tapi biar bagaimanapun juga, kesalahan tidak sepenuhnya berada di tanganku & teman-teman yang tidak menyimpan bukti-bukti itu dengan baik. Sebagai Universitas “Terbaik” di Indonesia, pantaskah UGM memiliki sistem administrasi yang buruk semacam ini??

Kalau memang aku & teman-temanku disinyalir belum lunas SPMA, kenapa tidak dari dulu kami diberi peringatan.. kenapa juga kami bisa melalui Ujian Akhir berkali-kali & selalu bisa heregistrasi untuk semester berikutnya. Bukankah aturan di UGM saat itu sangat jelas; SPMA harus sudah dilunasi pada tahun kedua, sementara saat ini kami angkatan 2003 sudah menginjak tahun kelima di kampus “kerakyatan” ini.

Dalam kasus seperti ini, hanya ada dua kemungkinan kesalahan yang dilakukan oleh UGM;

1. Sistem Administrasi yang sangat buruk sehingga pencatatan pembayaran kami bisa hilang entah kemana.

2. Terjadi penyelewengan dana oleh oknum di lingkungan UGM seperti yang terjadi di SMA 8 Yogyakarta.

Duh Gusti… kalau sudah begini, apa masih layak jadi Universitas Terbaik di Indonesia??

Novel terkeren sepanjang masa yang pernah saya baca, Ayat Ayat Cinta… Novel ini 2 kali saya baca, pertama kali baca kalau gak salah sekitar April 2006, dan yang kedua sekitar Desember 2006  yang dua duanya hasil minjem dari teman… Meskipun tidak sesurprise saat membaca pertama kali, membaca novel ini untuk kedua kalinya sudah cukup memberikan [...]

Hands, bentuk jamak dari hand. Kalau di bahasa Indonesia artinya tangan ya.. Kalau hands diartikan tangan-tangan aneh juga. Tangan itu dah sepaket, ya kanan ya kiri, kecuali kalo dispesifikkan jadi tangan kanan atau tangan kiri..

Kenapa dengan tangan? Secara sadar atau tidak, tangan, sudah sangat banyak membantu kita dalam kehidupan, entah dari mulai hal yang besar seperti mengerjakan suatu rancangan proyek yang rumit atau sampai hal yang kecil seperti sekedar ngucek-ngucek mata atau ngupil, hehe..

Tangan merupakan sarana kita untuk mewujudkan apa yang ada di otak dan pikiran kita. Jaras-jaras saraf motorik ke tangan, yang jalan dari otak terus lewat plexus brachialis (yang lumayan susah buat dihafal), menjalankan fungsi tangan yang tadi. Tangan kita juga bukan hanya jadi sarana untuk mentransfer dari dalam ke luar, tapi juga dari luar ke dalam. Jadi ga cuma punya fungsi motorik, tapi juga sensorik. Reseptor di kulit tangan menerima dan saraf menghantarkan impuls dari luar. Istilah mudahnya ya, ga jauh-jauh dari kalimat yang sering kita dengar, tangan itu fungsinya untuk : memberi dan menerima.

Hmm, kalau dipikir-pikir, untuk suatu hal yang physically terlihat, mudah untuk mengetahui fungsi tangan kita. Tapi untuk suatu hal yang tidak terlihat wujudnya, susah ya, dan mungkin kita nggak sadar kalau tangan kita dah begitu berjasa.

His name was Yusuf, an extraordinary boy. Hehe, jangan kaget, ini bukan flight of ideas, tapi cuma awalan buat paragraf baru yang topiknya masih nyangkut2 di atas kok. Yusuf anak yang ceria, ya selayaknya anak seumurnya yang lagi seneng2nya maen dan berteman. Tapi sebagai anak umur 10 tahun, Yusuf nggak sekolah di SD biasa seperti anak-anak lain, Yusuf is one of the special ones, dia sekolah di sekolah luar biasa. Being a Down’s syndrome child, dia memang punya banyak keterbatasan dalam aktifitasnya, terutama fungsi kognitif. Tapi ternyata kalau kita mau mengenal lebih jauh anak-anak seperti Yusuf, kita mungkin baru sadar, kalau tangan kita itu punya kemampuan yang luar biasa..

Kenapa luar biasa? Mungkin tangan Yusuf juga tidak sesempurna tangan lain untuk melakukan berbagai pekerjaan. Tapi tangan itulah yang dah menghantarkan semua perasaannya, kasih sayang, kehangatan, kejujuran, dan ketulusan seorang anak kecil, kepada sesamanya. Tangan Yusuf sangat terbuka, menggenggam tangan orang yang mengajaknya bicara, yang dengan itu, jelas secara tidak disadari, dah memberikan kesan bagi lawan bicaranya. Ya maaf bagi orang dengan kadar serotonin yang tidak mencukupi alias perasaannya tumpul, mungkin jabatan tangan itu cuma sekedar lewat saja. Jika dibayangkan secara susah, sentuhan tangan Yusuf bisa membuka reseptor-reseptor di otak yang mempengaruhi afek dan perasaan kita..

Trus kenapa dengan tangan kita? Kenapa tangan kita kadang susah untuk memberi? Setelah saya berpikir dan merenung, wuuhh.. betapa kadang jauhnya saya (mungkin kita semua kali ya..) dari yang namanya mengungkapkan ketulusan, kejujuran, dan kasih sayang dari hati. Masa-masa innocent yang sudah terlewati, dan mungkin dari berbagai perjalanan hidup yang sudah dijalani, membuat kita sulit menjadikan tangan ini, suatu sarana pengungkapan perasaan.. Bukan cuma kepada orang-orang tersayang lho, tapi juga orang lain, bahkan yang baru saja ketemu. Yah, semoga saja masih banyak Yusuf lainnya yang selalu bisa mengajarkan, bahwa tangan kita ini, haruslah memberi, dari dalam hati…

Give me your hand, i will show you sincerity, honesty, and love..

:: dya :: 21 november 2007 ::

(Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM dan sedang menjalani pendidikan Koasisten)

Hands, bentuk jamak dari hand. Kalau di bahasa Indonesia artinya tangan ya.. Kalau hands diartikan tangan-tangan aneh juga. Tangan itu dah sepaket, ya kanan ya kiri, kecuali kalo dispesifikkan jadi tangan kanan atau tangan kiri..

Kenapa dengan tangan? Secara sadar atau tidak, tangan, sudah sangat banyak membantu kita dalam kehidupan, entah dari mulai hal yang besar seperti mengerjakan suatu rancangan proyek yang rumit atau sampai hal yang kecil seperti sekedar ngucek-ngucek mata atau ngupil, hehe..

Tangan merupakan sarana kita untuk mewujudkan apa yang ada di otak dan pikiran kita. Jaras-jaras saraf motorik ke tangan, yang jalan dari otak terus lewat plexus brachialis (yang lumayan susah buat dihafal), menjalankan fungsi tangan yang tadi. Tangan kita juga bukan hanya jadi sarana untuk mentransfer dari dalam ke luar, tapi juga dari luar ke dalam. Jadi ga cuma punya fungsi motorik, tapi juga sensorik. Reseptor di kulit tangan menerima dan saraf menghantarkan impuls dari luar. Istilah mudahnya ya, ga jauh-jauh dari kalimat yang sering kita dengar, tangan itu fungsinya untuk : memberi dan menerima.

Hmm, kalau dipikir-pikir, untuk suatu hal yang physically terlihat, mudah untuk mengetahui fungsi tangan kita. Tapi untuk suatu hal yang tidak terlihat wujudnya, susah ya, dan mungkin kita nggak sadar kalau tangan kita dah begitu berjasa.

His name was Yusuf, an extraordinary boy. Hehe, jangan kaget, ini bukan flight of ideas, tapi cuma awalan buat paragraf baru yang topiknya masih nyangkut2 di atas kok. Yusuf anak yang ceria, ya selayaknya anak seumurnya yang lagi seneng2nya maen dan berteman. Tapi sebagai anak umur 10 tahun, Yusuf nggak sekolah di SD biasa seperti anak-anak lain, Yusuf is one of the special ones, dia sekolah di sekolah luar biasa. Being a Down’s syndrome child, dia memang punya banyak keterbatasan dalam aktifitasnya, terutama fungsi kognitif. Tapi ternyata kalau kita mau mengenal lebih jauh anak-anak seperti Yusuf, kita mungkin baru sadar, kalau tangan kita itu punya kemampuan yang luar biasa..

Kenapa luar biasa? Mungkin tangan Yusuf juga tidak sesempurna tangan lain untuk melakukan berbagai pekerjaan. Tapi tangan itulah yang dah menghantarkan semua perasaannya, kasih sayang, kehangatan, kejujuran, dan ketulusan seorang anak kecil, kepada sesamanya. Tangan Yusuf sangat terbuka, menggenggam tangan orang yang mengajaknya bicara, yang dengan itu, jelas secara tidak disadari, dah memberikan kesan bagi lawan bicaranya. Ya maaf bagi orang dengan kadar serotonin yang tidak mencukupi alias perasaannya tumpul, mungkin jabatan tangan itu cuma sekedar lewat saja. Jika dibayangkan secara susah, sentuhan tangan Yusuf bisa membuka reseptor-reseptor di otak yang mempengaruhi afek dan perasaan kita..

Trus kenapa dengan tangan kita? Kenapa tangan kita kadang susah untuk memberi? Setelah saya berpikir dan merenung, wuuhh.. betapa kadang jauhnya saya (mungkin kita semua kali ya..) dari yang namanya mengungkapkan ketulusan, kejujuran, dan kasih sayang dari hati. Masa-masa innocent yang sudah terlewati, dan mungkin dari berbagai perjalanan hidup yang sudah dijalani, membuat kita sulit menjadikan tangan ini, suatu sarana pengungkapan perasaan.. Bukan cuma kepada orang-orang tersayang lho, tapi juga orang lain, bahkan yang baru saja ketemu. Yah, semoga saja masih banyak Yusuf lainnya yang selalu bisa mengajarkan, bahwa tangan kita ini, haruslah memberi, dari dalam hati…

Give me your hand, i will show you sincerity, honesty, and love..

:: dya :: 21 november 2007 ::

(Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM dan sedang menjalani pendidikan Koasisten)

Kita ini manusia!

Iya, manusia, yang menurut Maslow punya basic needs yang harus dipenuhi : biologic; sense of belonging; love and to be loved; safe and security; reward and to be rewarded; actualization, punya berbagai cerita hidup yang tidak akan habis, dan dalam cerita hidup itu, ada berbagai sisi yang bisa dipelajari. Karena itu, seorang manusia, as a patient, harus dipandang secara holistik. Dan dengan belajar dari pasien, bukan hanya masalah medisnya yang menarik, tapi juga masalahnya sebagai manusia seutuhnya. Seperti yang selama tujuh bulan lebih ini saya lihat, tidak ada yang tidak menarik dari seorang pasien, yang posisinya bagi saya adalah guru. Dari mulai masalah kesehatan yang simpel seperti kutil (believe me, a verruca is not always that simple..), hingga penyakit kronis yang sudah punya berbagai ‘teman’ komplikasi, seperti hipertensi-gagal jantung-gagal ginjal-stroke. Semuanya menarik. Atau kalau mau lebih jeli, ya dengan memandangnya secara holistik, ya dia sebagai makhluk sosial, ya dia sebagai anggota keluarga, ya dia sebagai profesinya, dan seterusnya. Kadang masalah yang ada seperti iceberg phenomen, yang keliatan dari luar hanya sedikit saja. Tapi kalau bisa digali, terungkaplah semuanya. Ungkapan “Saya sakit..” tidak selalu bisa dijadikan acuan, tapi bagaimana kesakitan itu diungkapkan dengan bahasa tubuh dan interaksinya dengan orang lain. Mungkin di situ menariknya psikiatri ya. Instruktur saya bilang, kenapa dia memilih untuk belajar jadi psikiater, yaitu karena dia bisa belajar setiap hari. Bukan hanya dari textbook atau teori2 yang ada, tapi dari mengamati dan mempelajari orang-orang di sekitar, bahkan dengan berjalan-jalan di mall (it’s such an easy thing for her to recognize two persons as friends or couple), seperti halnya dengan mengamati teman sendiri yang sering berkedip misalnya, pun bisa jadi pelajaran yang menarik. Percaya? Hmmm.. an interesting start to learn psychiatry, mempelajari manusia..

:: dya :: bangsal jiwa, midnovember 2007 ::

(Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM yang sekarang sedang menjalani pendidikan Koasisten. )

Pemilu Presiden IA ITB

Tanggal 17 November 2007 kemarin diadakan pemilu untuk memilih presiden IA ITB yang baru menggantikan Laksamana Sukardi. Mengenai calon-calonnya tidak perlu saya ceritakan karena di blog yang lain sudah banyak yang membahas hal tersebut. Saya hanya ingin bercerita pengalaman saya mengikuti pemilu ini dan beberapa hal aneh yang terjadi.

Saya baru diwisuda 27 Oktober 2007 yang lalu, jadi saya tergolong alumni sangat muda. Sebelum hari pencoblosan, saya pernah mengisi form pendaftaran pemilih di depan masjid Salman. H-1 saya menerima SMS yang mengingatkan saya bahwa esok hari adalah hari pencoblosan. SMS itu juga menyatakan bagi yang pernah mendaftar diharapkan mengambil bukti pendaftaran di stand Hatta Rajasa (salah satu calon). Siang sekitar jam 1 saya datang ke kampus bermaksud menggunakan hak pilih saya. Setelah saya parkir di SR, saya menuju stand Hatta Rajasa untuk mengambil tanda bukti pendaftaran. Tapi disana ternyata nama saya tidak ada dalam daftar pemilih yang telah mendaftar. Oleh penjaga stand disarankan untuk mengisi kembali form pendaftaran. Sesuai saran saya isi kembali form pendaftaran dan mengisi daftar hadir. Setelah itu saya mendapatkan pin dan kaos Hatta Rajasa. Setelah itu saya menuju boulevard untuk menukarkan form pendaftaran dengan tanda peserta Kongres yang nantinya ditukarkan lagi dengan surat suara.

Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kesulitan apapun. Setelah mencoblos, jari kelingking kiri saya dicelup tinta. Sepintas tidak ada masalah, namun ada beberapa keanehan sebagai berikut:

  1. Pada saat saya mendaftar, tidak ada verifikasi apakah saya benar-benar alumni ITB. Verifikasi seharusnya dilakukan dengan menggunakan fotokopi ijazah, namun di stand Hatta Rajasa maupun stand pengambilan tanda peserta kongres, saya tidak pernah diminta menunjukkan bukti bahwa saya adalah alumni ITB.
  2. Di formulir pendaftaran, sudah tercantum dua tandatangan penjamin, yang menyatakan bahwa saya adalah alumni ITB. Namun saya sama sekali tidak mengenal penjamin tersebut, dan saya yakin mereka juga tidak mengenal saya.

Saya tidak tahu apakah kejanggalan ini hanya terjadi di stand Hatta Rajasa saja atau di semua calon. Seandainya mau, bisa saja mahasiswa atau bahkan non orang ITB ikut mencoblos. Oya, peristiwa ini disaksikan oleh rekan Ali Akbar yang kebetulan mencoblos bersama saya.

Sekarang, hasil pemilu sudah ditetapkan dengan kemenangan mutlak di kubu Hatta Rajasa. Mungkin ini bisa jadi pelajaran untuk pemilu-pemilu mendatang. Kepikiran juga, kenapa nggak pake pemilu online?? ITB masak nggak bisa bikin pemilu online??

Oya, kenapa nggak pemilu tiap tahun aja ya?? Banyak makan-makan, banyak training-training gratis…..

Migrasi Blog Ke Server Baru

Berhubung saya sudah lulus, jadi saatnya memindahkan blog saya yang semula ditaruh di server dalam kampus ke hostingan di luar kampus. Pemindahan ini juga dipicu sulitnya blog saya diakses dari luar kampus. Terbukti di situs agregator blog planet-if.amudi.org, blog saya selalu dalam keadaan tidak dapat diakses.

Jadi sekarang blog ini numpang di server hosting milik montirhost yang digawangi teman di ARC. Ternyata migrasi blog berbasis wordpress dari satu server ke server lain tidak sesulit yang dibayangkan.

Pertama, buat backup semua database wordpress kita dari server yang lama. Biasanya semua tabel yang berawalan wp_. Kemudian ubah file wp_config.php sesuai dengan konfigurasi database di server baru. Berhubung nama domain saya tetap, maka tidak ada perubahan yang dilakukan di dump database. Upload dump database ke server yang baru. Pindahkan semua file wordpress dari server lama ke server baru tanpa merubah susunan file. Hasilnya, blog ini bisa jalan seperti ketika dijalankan di server sebelumnya. Semua itu dengan catatan konfigurasi server kompatibel dengan versi wordpress yang dipakai.

Untuk memindahkan alamat blog agar mengacu ke server yang baru, tinggal ubah nameserver di control panel domain kita. Blog aulia-ra.org semua menggunakan nameserver ns1.itb.ac.id dan gtw.arc.itb.ac.id, sekarang menggunakan ns1.montirhost.net dan ns2.montirhost.net.

Dengan beroperasinya aulia-ra.org di server baru, semoga dapat lebih mudah diakses oleh pembaca.

Sebuah email yang saya kirim ke milis angkatan SMA : teladan03@yahoogroups.com yang cukup mendapat sambutan meriah dari anggota milis (sekitar 40an reply sampai 3 hari pasca pengiriman) ———————————————————————————————————————— Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh., He he he… pingin menghebohkan milis dengan judul yang heboh juga… Mmm… begini… Selama ini jarang banget saya temui [Berita Nikahan] yang dipublikasikan di [...]

Sebait Harap…

Tuhanku, Aku berdoa untuk seorang wanita, yang akan menjadi bagian dari hidupku. Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu. Seorang wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau. Seorang wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU. Wajah cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting. Yang paling penting adalah sebuah [...]

Sepuluh Kriteria Aliran Sesat (Fatwa MUI)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat. Apabila ada satu ajaran yang terindikasi punya salah satu dari kesepuluh kriterai itu, bisa dijadikan dasar untuk masuk ke dalam kelompok aliran sesat;

  1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
  5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
  6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
  7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
  9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i


Namun perlu dicatat beberapa hal yang benar-benar harus diperhatikan;

  1. Jangan mudah memvonis suatu ajaran sesat, akan tetapi jika terindikasi memiliki salah satu dari ciri-ciri yang tersebut di atas, maka ada baiknya dilakukan proses tabayyun, kroscek, dan segera laporkan kepada pihak yang berwenang, semisal MUI atau Ormas/Orpol Islam terdekat.
  2. Jika terbukti suatu ajaran itu sesat, jangan main hakim sendiri. Islam tidak pernah mengajarkan untuk menggunakan kekerasan dalam hal seperti ini, melainkan melalui jalur diskusi dan dialog. Kalaupun dibutuhkan tindakan tegas, maka wewenang itu berada pada pihak yang berwajib, dalam hal ini MUI, Kepolisian, Kejaksaan, dan tentu saja Pemerintah Daerah / Pusat.

Yang terakhir, seperti pesan bang Napi*;

Aliran sesat tidak hanya berkembang karena ada niat dari para penyebarnya (atau aktor di belakang layarnya), tetapi juga karena adanya kesempatan (baca: kelengahan umat Islam).

Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!!