*sigh*
*sigh*
…apalagi diumumin “bisa dilakukan lewat website”…
Nyusahin aja!!

…apalagi berharap bakalan dikasih daging…
“You get what you pay for” kalo kata orang² bule.
“Kita naik jalur bus aja yuk!”

Kita pasti mengetahui sebuah kata yang sangat dahsyat dampaknya pada semangat, pada kehidupan, pada keinginan, bahkan pada kemampuan. Kata itu adalah “jika saja”, kedahsyatannya mampu mengajak kita untuk mengeluh, mengajak kita untuk mengharapkan jarum detik berdetak ke kiri bukan ke kanan.
Coba saja kita renungkan sejenak, pernahkah kita mengungkapkan sesuatu yang membuat kita kecewa, yang pada kenyataannya jauh dari harapan bahkan kadang menyakitkan. Misal kegagalan, penyakit, kerugian, dan banyak teman-temanya yang mungkin saja itu adalah cobaan atau bahkan laknat, kita tidak tahu, yang harus kita lakukan adalah intropeksi, selalu mencoba memperbaiki diri menganalisa mengapa bisa terjadi kemudian bangkit melawan keterpurukan, menjadikan kegagalan sebagai senjata untuk meraih keberhasilan, menjadikan penyakit menjadi semangat untuk hidup sehat serta sebagai pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, dengan atau tanpa adanya penyakit itu setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.
Sekarang saatnya kita ubah paradigma kita, dari “jika saja” menjadi “akan”, dari keterpurukan menjadi kebangkitan, dari menyerah menjadi terus berjuang, dari lemah menjadi tegar, dari berpikir kehidupan ini berakhir dengan kegagalan menjadi kehidupan ini bermula dari kegagalan. Tanamkan semangat dalam diri “ Saya akan maju, saya tidak menyerah dengan kegagalan, saya tidak menyerah kepada penyakit, saya akan terus berjuang”.
Jarum jam sesuai kodratnya akan terus bergerak ke kanan, waktu akan terus berputar ke depan, tidak akan berputar ke belakang, jangan menyerah, jangan menjadikan kegagalan, keterpurukan,penyakit menang melawan kita, kitalah yang harus keluar sebagai pemenang.
Dalam surat Ar Ra’du ayat 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”
Jika kita menyerah maka kita akan selesai walau kehidupan kita belum usai, mati sebelum ajal menjemput. Kita ini adalah makhluk yang dibekali akal maka sudah selayaknya kita menggunakan karunia itu untuk menunjang perjuangan hidup kita mencari bekal di dunia. Nikmat ALLAH sungguh banyak sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Jika ALLAH berkehendak mengambil sedikit saja nikmatnya apakah lantas kita berhak kufur?
Coba renungkanlah “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah).” (QS. Ibrahimn Ayat 34).
Banyak diantara kita hanya menghitung kesusahan, hanya menghitung kegagalan jarang menghitung ni’mat kemudian mensyukurinya.
Alangkah baiknya kita ingat pula
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim Ayat 7).
Semoga kita termasuk dalam hamba-hamba yang mensyukuri nikmat-Nya bukan hamba-hamba yang kufur akan nikmat-Nya. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawabi.
It’s been 18 months here,
Halfway contract,
No training,
No workshop,
No nothing..
I’m getting bored.
How much longer can I stay within this nothingness?
Nobody knows..
Mbuh lah..

Istirahat dulu ya dengkul-dengkulku, kapan-kapan aku siksa lagi..


Yup, hari ini adalah Car Free Day di bulan November tahun 2009 untuk wilayah Jalan Jenderal Sudirman – MH Thamrin, Jakarta.
Saatnya gowes lagi, padahal kemarin juga udah. I think another 40K wont hurt, hehe..

Start dari Pondok Safari Indah pukul 06.05 via Pasar Bintaro-Tanah Kusir-Pakubuwono-Sisingamangaraja. Begitu sampai di Bundaran Senayan, pindah deh ke jalur cepat. Saatnya tancap gas. Eh, tancap pedal ding, ga ada gasnya.

Udah ngebut sekenceng-kencengnya tapi tetep ga bisa ngalahin road bike..sial..

Di Thamrin, rekan-rekan dari bike to work Indonesia membuat “Lajur Sepeda” dan membagikan pamflet yg menganjurkan untuk ber-”bike to work” ria. Lajur yang dibuat nggak permanen sih, cuma papan plastik mirip tanda wet floor yg ada di mall/gedung. Lajur sepeda ini memisahkan antara sepeda dan non-sepeda (pejalan kaki, dll). Lajur sepeda ada di sebelah kiri, mulai dari Bundaran HI sampai Bundaran Indosat. Dijaga marshal pula, jadinya pesepeda yg bandel nyelonong keluar lajur sepeda diarahkan untuk balik ke lajur sepeda.
Setelah 55 menit bergowes, sampailah di Monumen Nasional. Karena cuma solo rider & ga ada yg kenal, akhirnya cuma ambil foto, keliling Monas 1 putaran, dan memutuskan untuk kembali. Yg penting kan cari keringetnya..

Pas balik, mampir ke “halte” — ya, halte, karena mereka berjualan di halte — bike to work Indonesia untuk membeli beberapa merchandise. Sempet ngobrol2 juga.
Parahnya, gak nyadar kalo jersey yg kupakai kebalik luar-dalamnya. Untung jersey-nya polos & pake jahitan rantai, jadinya ya ga terlalu keliatan kalo kebalik.
